Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Antara Rumah, Kucing, Keterikatan, dan Meraihnya

18 Oktober 2017   15:03 Diperbarui: 18 Oktober 2017   15:09 1006
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Membeli rumah, apartemen atau tanah? Kalau tanah bisa didesain sesuka hati (dokpri)

Rumah itu tak masuk dalam koridor pencarianku. Kami sudah agak penat melakukan pencarian rumah setiap akhir pekan. Ketika kami hendak pulang, kami tertarik ke sebuah jalan masuk ke sebuah perumahan yang besar. Waktu itu penampilan jalan perumahan tersebut tidak semulus saat ini. Jalannya berlubang-lubang, kami berasa off road.

Yang bikin kami suka tempat ini selain jalannya yang lebar, tempatnya rindang karena di kanan kiri banyak pepohonan. Kami memasuki gang demi gang dan kemudian kami menemukan jalan buntu. Sepertinya kami dicurigai dan ditanyai oleh seorang Ibu paruh baya yang ternyata istri ketua RT. Kami pun berkenalan dan menyampaikan tujuan kami. Tak dinyana kami kemudian mendapat informasi rumah dijual dari Ibu tersebut. Rumah second, sudah berdiri sekitar delapan tahun. Rumahnya satu gang dengan dirinya.

Aku suka dengan daerahnya yang asri, dulu jalannya berlubang-lubang, sekarang sudah mulus (dokpri)
Aku suka dengan daerahnya yang asri, dulu jalannya berlubang-lubang, sekarang sudah mulus (dokpri)
Rumah itu sudah tak ditinggali. Rumput liar nan panjang tumbuh membuat kesan rumah yang terurus.Namun halamannya luas, sesuai dengan bayanganku. Aku membayangkan ada pohon, aneka tanaman, dan juga kucing-kucing berlarian. Rumahnya sendiri sedang tapi cukup besar bagi kami berdua. Kami membayangkan punya ruangan khusus hobi. Aku bisa memboyong semua koleksi bukuku ke rumah ini.

Cash Keras, Cash Bertahap dan KPR

Kami semangat dan berniat membelinya. Tapi kemudian sempat was-was dan ingin mundur ketika pemiliknya berkata rumah ini dijual cepat. Ia perlu dana cepat sehingga harga rumahnya dijual lebih murah  dibandingkan harga pasaran. Ia mengisyaratkan rumah ini dijual dengan cash keras. Kami berdua cenat-cenut memikirkan harus mampu membayarnya dalam waktu satu bulan. Jika merasa tidak mampu maka rumah itu akan dijual ke orang lain. Kami dimintai uang tanda jadi sebesar Rp 10 juta saat itu juga. Awalnya kami diberi waktu satu bulan untuk melunasinya, tapi kemudian ia berubah pikiran karena banyak peminatnya. Namun karena tidak enak kepada saya yang sudah memberikan tanda jadi, maka ia meminta kami membayar duapertiga pada dua minggu, selebihnya pada akhir bulan. Jika misalkan dalam dua minggu tidak mampu membayar duapertiganya, maka uang tanda jadi tersebut akan dikembalikan.

Karena pada saat itu tidak punya uang sebesar itu, saya pun meminjam dana dari kakak. Suami meyakinkan saya agar kami berani dan bertekad keras untuk membeli rumah tersebut. Ia sendiri juga sudah menyukai kawasan dan rumah tersebut.

Kami pun bersusah payah mengumpulkan dana untuk membayar termin pertama. Kami mengumpulkan seluruh tabungan, menjual logam emas yang kami miliki, dan mencairkan seluruh deposito. Kami merasa lega ketika berhasil memenuhi tenggat tersebut, tapi kemudian pusing masih harus mengumpulkan dana untuk termin berikutnya. Kami berupaya mencoba KPR tapi karena prosesnya tidak bisa cepat maka kami pun terpaksa meminjam dana dengan sistem kredit konsumtif. Karena menggunakan kredit konsumtif maka prosesnya pun sangat cepat. Untunglah waktu itu sedang ada promo kredit pegawai dimana bunganya hampir sama dengan bunga KPR. Ya, akhirnya kami melunasi pembayaran ke pemilik. Kami hanya berhutang sepertiga harga rumah dengan jangka waktu lima tahun.

Kami menanam mawar agar halaman rumah nampak asri (dokpri)
Kami menanam mawar agar halaman rumah nampak asri (dokpri)
Awalnya hutang terasa lama, tapi akhirnya lunas juga pada bulan Juli lalu. Wah leganya. Kami tidak punya lagi tanggungan. Kami punya rumah sendiri. Aku kemudian memboyong buku-bukuku dan kemudian kucing-kucing pun bertamu. Bagian paling menyenangkan ketika Nero lahir dan besar di rumah ini. Kehadiran kucing lucu nan nakal ini membuat tempat tinggalku benar-benar seperti rumah.

Setelah ada Nero dan kini si Mungil, rumah sudah berasa benar-benar seperti rumah (dokpri)
Setelah ada Nero dan kini si Mungil, rumah sudah berasa benar-benar seperti rumah (dokpri)
Dari pengalaman membeli rumah ini, proses mengangsur tidak seberat yang kubayangkan. Bahkan waktu itu kami masih bisa membeli tanah di kawasan Jonggol yang diniatkan menjadi perumahan dengan sistem cash bertahap. Bedanya cash keras dengan cash bertahap adalah membayarnya tidak langsung otomatis lunas dalam jangka waktu minimal satu bulan setelah kesepakatan, tapi masih bisa lega karena waktu melunasinya dengan cicilan bisa hingga tiga tahun. Sistem ini banyak ditawarkan ke pengembang dengan berbagai kemudahan, yaitu tidak perlu mengurus banyak dokumen , mencicilnya langsung ke pengembang, dan durasi mencicilnya bisa tiga tahun. Karena harga tanah saat itu tidak mahal, maka saya pun memilih sistem cash bertahap. Perbulannya tidak sampai sejuta masa itu.

Membeli Apartemen, Cash Keras, Bertahap, atau KPR/KPA?

Beberapa waktu lalu mengunjungi bagian pemasaran sebuah apartemen. Setelah bebas mengangsur, kami ingin berinvestasi dan menjajagi pangsa apartemen. Di dekat tempat tinggal ada apartemen yang prospeknya bagus. Kami pun menuju apartemen tersebut, oleh pihak marketingnya kami disodori tawaran untuk cash keras, cash bertahap dan kredit kepemilikan apartemen (KPA).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun