Mohon tunggu...
Fadly Rahman
Fadly Rahman Mohon Tunggu... -

Sejarawan. Pegiat food studies. Penikmat buku. Menulis di beberapa surat kabar nasional (Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Sinar Harapan). Buku saya "Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial, 1870 - 1942" (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2011). Email: chef_fadly@yahoo.com.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sang Pewaris Pusaka Kotagede

30 Januari 2016   13:51 Diperbarui: 30 Januari 2016   23:03 258
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada suatu kesempatan saya bersama rombongan mahasiswa program studi Pascasarjana Sejarah UGM mengunjungi Kotagede, sebuah wilayah yang berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Yogyakarta. Atmosfer kota tua sudah terasa ketika saya memasuki gapura berlanggam Hindu-Jawa. Jika membayangkan wisata sejarah ini dipandu kuncen berusia sepuh, ternyata kesan itu tidak demikian. Para pemandunya adalah tim dari Divisi Jelajah Pusaka Kotagede Forum Joglo di bawah koordinasi seorang perempuan muda bernama Shinta Noor Kumala.

[caption caption="Shinta Noor Kumala. (Dok. Fadly)"][/caption]

Melalui Forum Joglo, Shinta dkk mengintegrasikan potensi sejarah, budaya, dan sumber daya masyarakat lokal untuk memajukan Kotagede sebagai salah satu destinasi wisata terpenting di Yogyakarta. Selaku warga Kotagede serta ditunjang kompetensinya sebagai lulusan dari program studi Pariwisata UGM, Shinta terpanggil jiwanya untuk melestarikan sejarah dan budaya daerahnya yang merupakan warisan dari Jawa masa Mataram Islam abad ke-16. Alasan Kotagede dianggap penting untuk dilestarikan dapat dirasakan dari berbagai tinggalan sejarah Mataram Islam, di antaranya masjid, pasar, kedhaton (keraton), keliling bangunan bertembok, benteng, pemukiman penduduk, hingga makam raja-raja.

Tinggalan-tinggalan bersejarah itu adalah bagian dari tata ruang Kotagede yang didirikan oleh Panembahan Senopati ketika berkuasa pada ± 1579 – 1601 dan kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan Mataram pada kurun ± 1582 –1640. Setelah mangkatnya, jasad Senopati dikebumikan di Kotagede. Masa kepemimpinannya telah mengantarkan Mataram menjadi sebuah dinasti kekuasaan di Jawa yang paling kuat dan paling lama berkuasa. Salah satu keturunannya yang termashur adalah Sultan Agung. Di bawah kekuasaannya yang berlangsung pada ± 1613 – 1646, Mataram berkembang menjadi penakluk terbesar di Nusantara setelah era Majapahit. Pada tahun 1640 Sultan Agung memindahkan ibukota Mataram Islam ke Pleret, Bantul, yang berjarak sekitar 9 km dari arah barat Kotagede. 

Menyimak sejarahnya, jelas Kotagede adalah pusaka Yogyakarta yang bagi Shinta dkk penting untuk dilestarikan. Apalagi, penguasa Yogyakarta saat ini tak bisa dilepaskan sebagai keturunan dari para penguasa Mataram. Kotagede juga adalah sumber sejarah dan budaya Jawa yang boleh dikatakan masih asli. Sebab, di sini sebagian besar warganya masih hidup dalam suasana dan nilai-nilai tradisi Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.

Mengedukasi Budaya Pariwisata bagi Generasi Muda Kotagede

Dengan pengetahuan pariwisata yang dikuasainya, Shinta tentu menangkap isyarat bahwa industri pariwisata bagaikan dua sisi mata uang. Pada satu sisi, pariwisata memang identik memantik pertumbuhan sosial ekonomi di kalangan masyarakat lokal sebagai bagian dari pelaku industri pariwisata. Setidaknya hal ini bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Tapi sisi lain, pertumbuhan sosial ekonomi berbasis pariwisata juga berperluang merusak lingkungan alam, sejarah, dan budaya yang sedianya dilestarikan. Hal ini disebabkan kecenderungan masyarakat yang memandang pariwisata hanya pada aspek ekonomi belaka tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan alam, sejarah, dan budaya daerahnya sendiri.

Tentunya Shinta tak ingin kasus-kasus buruknya pengelolaan wisata di berbagai wilayah di Indonesia yang justru malah merusak alam, sejarah, dan budaya lokal itu sendiri juga terjadi di Kotagede. Untuk mengantisipasinya, langkah yang dilakukan oleh Shinta dkk adalah menjaring masyarakat lokal, khususnya generasi muda, untuk berperan aktif melestarikan lingkungan, sejarah, dan budaya daerahnya sebagai potensi wisata. Tidak heran ketika saya dan rombongan berkunjung ke Kotagede, Shinta diiringi seorang pria paruh baya serta tiga anak muda berstatus siswa SMU untuk memandu kami.

[caption caption="Masyarakat diberdayakan menjadi pemandu wisata (Dok. Fadly)"]

[/caption]

Menanamkan pendidikan pariwisata bagi generasi muda menjadi aset tersendiri bagi Divisi Jelajah Pusaka Kotagede Forum Joglo yang dikelola Shinta. Banyak anak muda Indonesia yang akrab dengan berbagai gadget serta melek internet dan aktif di media sosial, tapi belum banyak pihak yang menganggapnya sebagai potensi untuk diberdayakan. Tapi Shinta justru memberdayakan potensi anak-anak muda di Kotagede dengan mengembangkan pariwisata di wilayahnya melalui teknologi berbasis komunikasi dan informasi. Shinta menghimpun mereka dalam wadah Komunitas Muda Jelajah Pusaka Kotagede. Komunitas ini memiliki blog dengan alamat http://kotagedeheritagetrail.wordpress.com dan akun Facebook “Kotagede Heritage Trail” sebagai sarana bagi Shinta dkk untuk menginformasikan dan mendokumentasikan berbagai aktivitas komunitasnya. Melalui sarana informasi dan komunikasi seperti ini, wisatawan bisa mencari dan membantu menyiarkan informasi seputar wisata Kotagede kepada keluarga, teman, atau koleganya.

Langkah yang dilakukan Shinta dkk itu ternyata memunculkan dampak positif dalam peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan asing ke Kotagede. Shinta menyilakan siapa saja yang ingin berpatisipasi melestarikan pusaka sejarah dan budaya Kotagede. Bagi yang ingin mendonasikan bantuan finansial, bisa mengkonfirmasinya melalui nomor pesawat telpon dan ponsel yang dicantumkan dalam blog komunitasnya. Komunitas yang beralamat di Perum Sendok Indah KG/II 374 Prenggan Kotagede ini menyalurkan donasi-donasi yang masuk untuk mengembangkan berbagai kegiatan seni, budaya, dan ilmu pengetahuan dengan tujuan menanamkan nilai-nilai edukasi budaya pariwisata di kalangan masyarakat Kotagede.

Berbagai kegiatan itu bisa ditengok dari laman Facebook mereka yang menampilkan aktivitas di Sanggar Tari Tejo Arum Kotagede, Perpustakaan Heritage Kotagede, dan Kotagede Heritage Trail. Masyarakat Kotagede, khususnya anak-anak muda, terlibat aktif dalam berbagai kegiatan itu. Mereka mesti dilibatkan atau terlibat dalam berbagai kegiatan agar dapat memahami bahwa untuk membangun sebuah cultural heritage perlu dukungan aktif dari mereka sendiri sebelum didukung oleh pemerintah dan pihak-pihak lainnya.

Melalui sarana media sosial, siapa saja bisa bergabung secara online, mencari informasi, berkomunikasi, dan melihat berbagai aktivitas yang dikelola Shinta dkk. Sebagaimana komentar Shinta dalam laman Perpustakaan Heritage Kotagede, bahwa dengan memanfaatkan dunia internet dan Facebook yang ”ngetren” di kalangan masyarakat Kotagede, diharapkan Kawasan Cagar Budaya Kotagede bisa terpublikasi secara global.

Walhasil, masyarakat pun tidak bisa tidak menjadi siap dan mampu untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pengaruh yang datang dari luar sebagai akibat dari perkembangan wisata di daerahnya. Bukti itu bisa dilihat dari denyut aktivitas pakaryan (pengrajin) perak di lingkungan warga Kotagede. Pada awalnya kerajinan perak yang dimulai pada awal abad ke-20 ini dikerjakan hanya untuk memenuhi pesanan keluarga keraton dengan produk berupa kalung dan kotak sirih. Namun, seiring pesatnya perkembangan wisata di Kotagede, kini para pengrajin perak jadi lebih kreatif memodifikasi ragam produk perak yang mengikuti selera wisatawan.

Namun bagi para pakaryan, pariwisata bukan hanya bicara soal uang; lebih penting dari itu, inilah suatu cara yang strategis bagi mereka untuk melestarikan seni dan budaya di Kotagede. Jadi, keuntungan ekonomi harus sejalan dengan pengembangan nilai-nilai budaya pariwisata yang edukatif, baik bagi masyarakat setempat maupun bagi wisatawan. Mengedukasi masyarakat untuk sadar budaya pariwisata memang tak bisa dilepaskan dari apa yang selama ini diupayakan Shinta dkk. Sebagai warga Kotagede, Shinta tentu paham benar bagaimana strategi mengarahkan masyarakat lokal dalam melestarikan nilai-nilai tradisi budaya dan sejarahnya melalui industri pariwisata.

[caption caption="Kelompok Usaha Bersama yang menaungi aktivitas pencaharian masyarakat Kotagede (Dok. Fadly)"]

[/caption]

[caption caption="Toko penjualan cinderamata yang diusahakan masyarakat Kotagede. (Doc: Fadly)"]

[/caption]

Shinta adalah satu contoh sosok generasi muda inspiratif yang memiliki atensi dalam upaya melestarikan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia. Dari Shinta setidaknya kita bisa belajar, bahwa menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap sejarah dan budayanya sendiri dengan menanamkannya melalui pengetahuan pariwisata adalah upaya yang baik untuk memperkuat identitas ke-Indonesia-an.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun