Padahal jika dianggap tidak pas, interupsi sangat bisa dilakukan untuk program live (apalagi taping). Komunikasi dengan para pengisi acara saat live bisa dilakukan di studio melalui kode dari floor director, atau melalui matador (papan untuk memberikan instruksi) yang dipegang tim kreatif. Selain itu, di beberapa program, host juga dibekali earpiece (speaker kecil di telinga) sebagai sarana untuk berkomunikasi langsung dengan kru di control room --yang biasanya ada sang produser di sana.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, konsep (termasuk gimmick di dalamnya) sangat perlu "digodok" matang-matang saat rapat pra produksi. Peran produser sangat penting mulai dari tahap ini. Bagi saya, seorang produser tidak hanya dituntut untuk memikirkan bagaimana merealisasikan suatu ide atau gimmick-gimmick saja, tapi lebih mempertimbangkan apakah ide tersebut layak untuk dimainkan atau tidak, serta bagaimana dampak kedepannya.
Pengalaman saya dulu, walaupun sudah berjam-jam "pertumpahan iler" di rapat pra produksi, kadang ya masih bisa juga program "kepeleset" seperti itu. Saya sebenarnya masih berharap ada "lapisan" lain yang bisa menjadi penyaring, sebagai pemberi masukan dan pengingat ke produser tentang ide-ide yang akan dilakukannya. Disinilah kadang saya mendapatkan masukan itu justru dari program director. Di ruang kontrol, program director juga berhak memberikan masukan-masukan selama syuting. Walaupun keputusan akhir tetap di tangan produser.
"Brownis" sendiri sebenarnya sudah menjadi program stripping (tayang setiap hari di jam yang sama) dalam rentang waktu yang cukup lama, sejak 2017. Saya membayangkan betapa sulit tim produksinya ketika "membangun" program ini, dan membuatnya bisa bertahan sampai saat ini. Sayang saja jika akhirnya malah "tersandung" oleh hal-hal yang seharusnya bisa diantisipasi sebelumnya.
***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H