Gerbong kereta telah kosong. Tak ada seorang pun yang tertinggal. Bagaimana bisa ada yang tertinggal jika sedari awal hanya aku yang menghuninya?
Aku mengangkat tubuhku. Ada rasa nyeri yang tak tertahankan. Aku merabanya dan kulihat sebilah pisau tertancap pada perutku.
"Hallo, Kakak. Sebentar lagi Kakak akan menghilang seperti Ibu. Dan aku akan berhenti berhitung. Hahaha."
Anak perempuan itu tertawa. Mulutnya terbuka lebar. Sangat lebar. Lebih lebar lagi. Yang memakan tubuhnya sendiri, kemudian tubuhku.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI