Mohon tunggu...
DesoL
DesoL Mohon Tunggu... Penulis - tukang tidur

▪tidak punya FB/Twitter/IG dan sejenisnya▪

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Tartaros

4 Agustus 2015   11:04 Diperbarui: 4 Agustus 2015   11:04 1212
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di sini gelap. Seperti saat kau begitu membenci gelap, namun harus berpelukan tiap malam dengannya. Tidak ada yang tahu kapan kegelapan akan berakhir, pun juga aku. Air mata membeku, sebab gelap membuat hatiku beku.

“Ros…”

Ada yang memanggilku. Aku lebih suka hidup dalam diam. Mengacuhkan semua sumber suara. Jika aku melakukannya sepuluh tahun silam, tentu aku masih bisa melihat cahaya.

“Makanlah.”

Makan? Aku sudah sering melakukannya dan aku telah bosan. Melakukan gerakan mulut yang sama, dengan geraham yang saling adu dan juga lidah yang tak sabar menemukan rasa.

“Atau kukupaskan sebutir apel untukmu? Muntahkan jika tak manis.”

Percuma kau tawarkan apel yang kaukata manis. Semua rasa yang ada hanyalah pahit. Kepahitan! Sama pahitnya ketika kau meminum segelas ramuan berwarna hitam pekat. Dan kali ini aku telah meminumnya.

“Aku akan pergi, Ros.”

Pergi saja! Siapa peduli!

“Mari kita lupakan yang telah berlalu.”

Begitu mudahnya kau lupakan sebuah kepahitan. Oh, aku lupa. Bukankah kau tak pernah rasakan apa itu kepahitan? Kau juga tak perlu menguras air matamu seribu hari lamanya di sini. Kau merpati, kini. Dan aku hanyalah gagak hitam yang akan menjemputmu nanti! Ingat! Nanti!

“Ros, izinkan aku memelukmu.”

Jangan mendekat! Kuperingatkan sekali lagi! Jangan mendekat!

“Maafkan aku, Ros…”

Kubiarkan Sheol meregang nyawa dalam pelukku. Pisau apel yang terloloskan, merobek jantungnya. Aku telah berhasil memulangkannya pada neraka. Cukup lama kubiarkan darahnya mengalir deras pada tubuhku. Aroma wangi neraka membuatku bahagia.

Sepuluh tahun silam, Sheol membawa kegelapan dalam hidupku. Bisik-bisik manja dari bibir berbisanya membuat Pikros –suamiku, menelannya. Aku dimadu. Pahit. Lebih pahit dari pada saat aku ditinggalkan pacarku sewaktu muda.

Sheol menelan Pikros dalam api keserakahan. Pertengkaran yang kudengar, berakhir dengan sebuah tusukkan pada tubuh Pikros. Aku hanya ingin melalukan maut darinya. Kucabut pisau yang ternyata membawaku dalam kekelaman.

***

“Seharusnya napasmu masih panjang di sini.”

Aku divonis penjara seumur hidup atas kematian suamiku. Kini, tak berlaku lagi.

“Ros, apa permintaan terakhirmu?”

Permintaanku telah Tuhan penuhi. Sheol telah mati. Tapi apa salahnya jika aku memintanya untuk kedua kali?

“Bukalah penutup mata ini. Aku ingin melihat cahaya, sebab aku adalah Tartaros. Biarkan aku mencintai peluru yang akan mengakhiri hidupku.”

Dooooooor!

-oOo-

Tartaros (bahasa Yunani) : kegelapan

Sheol (bahasa Ibrani ) : kematian

Pikros (bahasa Yunani) : kepahitan

gambar

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun