Gang itu tidak terlalu panjang, hanya sekitar setengah kilometer. Ujungnya merupakan tembok pembatas kawasan bisnis HI. Ada sebuah lubang kecil yang dibuat pelintas di tengah papan semen pembatas, persis muat satu orang berbadan di bawah 70 kg. DC masuk ke lubang itu. Ia keluar di sebuah tanah kosong tak jauh dari dealer Datsun, sebuah tanah kosong yang  belum dibangun tak jauh dari Bigmarket.
" Ternyata dia pulang lewat jalan tikus ini," Gumam DC. Ia kembali ke lubang, menyeberang, dan berhadapan dengan sebuah pemancingan. Ia membayar 25 ribu berhubung ada papan iklan bahwa di hari biasa memancing harian hanya 25 ribu. Ia menyewa pancing, membeli umpan, dan masuk ke pemancingan. Sekalian ia memesan makan siang berupa ikan bakar dan sambal berserta daun singkong rebus.
Pemilik pemancingan itu merangkap pelayan, mengantar pesanan DC ke tempat DC memancing. DC menyapa pemilik pemancingan, seorang lelaki sederhana berwajah sabar berusia sekitar 45 tahun bernama Babe, entah Babe apa.
" Babe, sudah lama membuka pemancingan ini ?" tanya DC.
" Belum lama, Bos. Awalnya sekitar 2010. Setelah kanal rampung dan Kawasan Bisnis mulai ramai." Jawab Babe bersemangat.
" Duduk dulu, Be. Aku ada banyak pertanyaan." Orang Betawi yang sudah berumur lebih suka dipanggil babe ketimbang pak.
" Mau nanya apa, Bos, "
" Kenal dengan seorang wanita yang suka lewat di sini, namanya Belani, yang sekarang kerja jadi kasir di Bigmarket." Â Tanya DC.
" Bela maksud Bos ? Kenal donk. Dia janda kembang tak jelas. Masih cakep tuh, Bos. Masih yahud, sayang sulit dibujuk buat dijadiin bini muda gue, hehehe..." pemilik pemancingan itu ketawa.
DC baru tahu Belani panggilannya Bela. Panggilan simpel ala telenovela. " Kenapa dia jadi janda ?" tanya DC.
" Ditinggal suaminya, Bos. Suaminya dulu kaya. Kontraktor pembangun BKT. Dulu waktu menikah pestanya meriah banget. Pesta gede-gedean, seluruh orang kampung sini diundang. Itu katanya pesta buat orang kampung, buat pengusaha mereka mengadakan pesta lain di Kelapa Gading."