Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... Penulis - Manusia

Manusia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Orsu

21 Maret 2021   06:06 Diperbarui: 9 April 2022   10:59 285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Foto by: Timur Weber, www.pexels.com

'Orsu!', katanya sambil tergelak.

Supir taksi tengah baya itu masih mengantar kami berputar-putar menghindari jalan raya yang padat, sambil terus nyerocos tentang ini dan itu. Alasannya ingin menghindari kemacetan, meski sebenarnya kami curiga ini dia lakukan agar argometer taksinya berkedip-kedip lebih lama.

Bicaranya kami tafsirkan sebagai bagian dari keramahan, campur-campur komentar miring dan gunjingan.

Barusan dia menertawakan pekuburan orang-orang susah saat melintas Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut.

Rupanya segregasi berdasarkan miskin-kaya masih berlanjut ke pekuburan. Dan stereotyping bagi orang susah itu berlanjut setelah mati: dipandang sebelah mata dan direndahkan, bahkan oleh supir taksi.

Padahal pak supir sendiri sudah tergolong paruh baya dan memasuki lansia. Barangkali tak lama lagi ia sendiri menyusul masuk ke liang kubur. Bila demikian, di manakah dia bakal dikubur? Di lokasi kubur orang kaya atau lokasi orang susah?

(Pada pertengahan tahun 2021, data dari Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI Jakarta menunjukkan bahwa 68 dari 82 Taman Pemakaman Umum yang ada di Jakarta memiliki tingkat keterisian di atas 95%, bahkan 100%. Mayit harus ditanam bertumpuk bahkan sampai tumpuk 4. Satu liang bisa berisi 3 atau 4 nama) 

***

Ragam pilihan itu hanya tersedia bagi orang-orang kaya. Orang fakir tidak punya banyak pilihan. Mereka harus memanfaatkan pilihan yang ada, seoptimal mungkin, dengan sepenuh rasa syukur.

Melihat ke bawah, kepada mereka yang nasibnya lebih susah merupakan kiat utama guna memelihara dan menikmati rasa syukur itu.

Bukannya malah mendongak ke atas.

Di satu sisi melihat kepada mereka yang posisinya di atas: yang tampaknya ‘lebih beruntung’ sangat mungkin mengurangi rasa syukur itu.

Yang muncul justru meremehkan nikmat, tidak menerima takdir, maunya berontak dan protes pada ketetapan Ilahi. Ujung-ujungnya frustasi.

"Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." (Sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam)

Selain itu, yang kita sangka lebih bahagia ternyata juga punya kesusahan jenis lain.

***

Adaptasi kebiasaan yang baru --sebenarnya merupakan logika solusional yang mungkin diajukan untuk melepaskan diri dari belit kesulitan itu. Tapi itu baru grand theory-nya. Di tataran praktis orang harus menekuni lapangan pekerjaan yang lebih menghasilkan, lebih gampang, dan lebih membahagiakan.

Kelenturan dan adaptasi itu kata kuncinya. Ketika beradaptasi itu diperlukan juga kesalehan dan mentalitas positif dalam bekerja.

Nah, mentalitas positif dalam bekerja itu biasa dimiliki siapa saja: rajin, amanah, menepati janji, mau belajar, mau bekerja keras, kreatif dan pandai melihat peluang dan seterusnya merupakan sebab-sebab kesejahteraan yang bisa diperoleh siapa saja. Mentalitas positif dalam berikhtiar itu memang sekilas mirip dengan kesalehan. Kesalehan = mentalitas positif + orientasi akhirat.

Banyak orang memilih berdamai dengan keadaan dan mengabaikan nurani lantaran dasar perhitungan manfaat dan mudaratnya melulu adalah ngebul tidaknya kompor di dapur. Pemihakan terhadap kebenaran diabaikan dan cenderung memilih menjadi partisan yang manut menyokong pimpinan yang korup. Menjadi merdeka tidak lebih bermakna kalau pada akhirnya jatuh miskin.

Yang lebih substansi sesungguhnya bukan di lokasi pekuburan mana kita bakal dimakamkan, namun nasib kita di alam kubur sana. Mau dimakamkan di taman makam pahlawan, pekuburan mahal berstatus internasional, atau pemakaman orang biasa nasib Orsu sejati tidak bisa dipastikan.

Semoga kita semua tidak menjadi Orsu di alam baka.

Amin ya Rabbal Alamin.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun