Mohon tunggu...
Deny Oey
Deny Oey Mohon Tunggu... Administrasi - Creative Writer

Seorang pembelajar, pecinta alam dan penikmat makanan pedas. Sesekali mengkhatamkan buku dan membagikan pemikirannya dalam tulisan. Beredar di dunia maya dengan akun @kohminisme (IG) dan @deNocz (Twitter).

Selanjutnya

Tutup

Bola

Sayonara Meneer

24 Mei 2016   08:28 Diperbarui: 24 Mei 2016   17:23 47
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="LVG in Old Trafford"][/caption]

Kalau diumpamakan, hidup dan detak jantung Manchester United dalam kurun dua tahun terakhir seperti sedang bermain roller coaster. Bukan hanya dirasakan oleh fans yang menggerubungi Old Trafford atau fans layar kaca yang hanya bisa menyaksikan lewat layar televisi, hal ini juga dialami dan dirasakan oleh para pemain, staf, manajemen, owner dan tak lupa, si pelatih. Buktinya, kita bisa melihat di era milenium MU bisa sangat terpuruk hanya karena pelatih bergelar The Chosen Oon, maaf typo maksud saya The Chosen One, yang sayangnya harus dipecat sebelum musim berakhir. Meski sempat naik dan menduduki peringkat keempat musim berikutnya, MU seperti terhempas lagi ke bawah di akhir musim ini. Tentu saja ini semua karena PHP tingkat dewa dimana tragedi terpeleset terulang kembali (meski terjadi di lapangan namun aktornya bukan Steven Gerrard) saat mengejar empat besar. Dan, entah harus senang atau kecewa, untungnya piala lokal tak lepas dari genggaman. Harus ada yang dikambinghitamkan? Siapa dia? Tentu saja si pelatih.

Sejak musim ini bergulir, banyak yang mempertanyakan metode Louis Van Gaal, atau ‘filosofi’ seperti yang disebut sendiri olehnya. Manchester United seketika seperti kehilangan identitas mereka. Permainan penuh ‘kesabaran’ yang membuat fans gregetan selalu diperagakan di lapangan. Mulai dari putar-putar bola dari tengah ke depan lalu dioper ke belakang lagi sampai kartu AS Van Gaal yang berwujud pemain jangkung kribo yang disebut olehnya sebagai pemain terbaik meski salah mengoper bola sekalipun. Imbasnya, selain permainan monoton hasil di lapangan juga turut mengikuti, seperti skor akhir atau jumlah masuk-kemasukan gol (kenapa kamu ada di bawah mistar gawang De Gea?).

Sampai tengah musim, rumor pemecatan Van Gaal sudah gaung terdengar. Pengganti pun juga sudah ditunjuk yang mana merupakan asisten Van Gaal saat ia masih bermain matador dulu. Disebut-sebut MU sudah melakukan kesepakatan verbal dengan Jose Mourinho ditambah perjanjian pra-kontrak bila sewaktu-waktu Van Gaal dipecat. Dan lagi-lagi, entah harus merasa senang atau kecewa, si meneer masih ‘bisa’ bertahan sampai musim ini berakhir, atau setidaknya sampai ia masih bisa menambah satu gelar dari Inggris dalam CV-nya.

Déjà vu Pellegrini

Masih ingat awal tahun kemarin dimana Manchester City resmi menunjuk Pep Guardiola sebagai pelatih The Citizens musim depan? Manuel Pellegrini, pelatih City saat ini, akhirnya buka suara bahwa ia sudah tahu bahwa dirinya akan segera didepak apapun hasil yang ditorehkan musim ini. Lalu, bagaimana hasilnya? Pellegrini seperti bermain tanpa beban. Ia masih bisa memberikan gelar Piala Liga Inggris, ditambah prestasi membawa The Citizens untuk pertama kalinya lolos ke semifinal Liga Champions, plus mengamankan tiket kompetisi elit Eropa tersebut musim depan. Setidaknya ia masih bisa memberikan kenang-kenangan yang pantas.

Bandingkan dengan Van Gaal. Semenjak isu pemecatan berhembus kencang, pelatih berkebangsaan Belanda ini berulang kali mengelak dan menghindari pertanyaan yang dilontarkan oleh media.

"Tidak ada (isu pemecatan) itu. Bila manajemen telah mengontak Mourinho, mereka pasti memberitahu saya,” sahutnya.

Van Gaal memang berhasil menghindari gencaran rumor tentang pemecatannya, namun tentu saja kita semua tahu sekarang apakah saat itu Van Gaal sedang membela diri atau mencoba menutupi kabar yang, katakanlah, sudah 90% benar meski belum terklarifikasi. Seharusnya para wartawan memberikan pertanyaan lain yang membuat keringat dinginnya bercucuran.

"Mr. Van Gaal, apakah anda masih bisa tidur nyenyak tiap malam?”

"Apakah anda pernah bermimpi Mourinho mendatangi anda dengan tawa menyeringai dan berbicara dengan nada mengejek?”

Anyway, hal inilah yang membedakan Van Gaal dan Pellegrini. Bila Pellegrini diberi ‘masa tenang’ di sisa masa kerjanya, maka Van Gaal harus berpacu dengan waktu dan kesempatan yang datang. Ia bagai telur retak yang sudah berada di ujung tanduk. Kita sudah membahas prestasi apa yang diberikan oleh Pellegrini kepada Manchester City. Van Gaal? Tanyakan saja sendiri kepada fans Manchester United bagaimana rasanya meraih Piala FA dengan permaianan ‘seadanya’ ditambah bonus bermain di Liga Malam Jumat musim depan.

[caption caption="Mourinho - Van Gaal"]

[/caption]

The End

Roller coaster sudah berakhir, sempat berada di puncak dan di atas angin saat melakoni pekan-pekan terakhir liga, MU harus tergelincir dan jatuh ke bawah. Putaran kecil terakhir sudah dilewati, dimana mereka berhasil di laga terakhir yang merupakan final Piala FA. Namun putaran itu tak langsung turun menukik, ia perlahan-lahan hanya turun ke bawah yang disertai dengan jalur lurus yang terasa sangat panjang.

Van Gaal memang melewati setiap laga bersama MU dengan penuh tawa, cemas dan juga rasa takut. Ia bisa duduk diam di bench sambil berpura-pura sibuk menulis. Di lain waktu ia pernah berakting diving di depan ofisial di pinggir lapangan sebagai bentuk protesnya. Ia bisa saja tertawa dengan para pemainnya, di satu sisi ia juga harus menghadapi rasa takutnya ketika timnya kalah atau bermain jelek dan kembali harus menangkis isu yang kian menjadi-jadi itu bila MU kalah. Puncaknya kita bisa melihat bagaimana Van Gaal mengangkat trofi dengan senyum dan tawa namun sorot matanya menyimpan sedikit kesedihan. Ia tahu bahwa eranya telah berakhir, sudah selesai.

Seperti yang sudah dirumorkan, usai Piala FA rampung, Manchester United akan segera mengontrak Mourinho. Setidaknya 24 jam setelahnya atau paling lambat akhir pekan ini. Kubu United sendiri akhirnya memberi konfirmasi tersebut bahwa masa kerja Van Gaal telah berakhir. Seperti tak bisa menutupi kekecewaannya, Van Gaal sebenarnya masih berharap diberikan kesempatan paling tidak setahun lagi untuk memberikan kesuksesan pada The Red Devils.

"Saya kecewa tidak bisa merampungkan rencana kerja tiga tahun. Klub ini sudah memiliki fondasi untuk sukses dengan piala FA sebagai acuan.”

Kendati demikian, Van Gaal sudah mewarisi para pemain muda berbakat yang bisa menjadi tulang punggung tim di masa depan. Ini akan menjadi tugas manajer selanjutnya yang diyakini akan memberikan kesuksesan untuk MU. Seperti sebuah film, layar sudah tertutup diiringi dengan kalimat ‘The End’. Masa-masa Van Gaal di Old Trafford sudah berakhir. Setelah berbagai filosofi yang membosankan meski dihiasi dengan hadiah hiburan dan juga kekecewaan mendalam, entah para fans MU harus merasa senang, sedih atau kecewa dengan pemecatan ini.

Ah sudahlah, Sayonara Meneer.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun