Pengalaman bermain saham juga dialami seorang kawan lain. Sebelum masa pandemi, sejak tahun 2008 dia sudah berhenti bekerja dan total bermain saham. Dia menjadi trader, jual-beli saham untuk membiayai kebutuhan keluarganya sehari-hari.Â
Kawan saya ini, setiap hari menganalisa saham mana yang akan dikoleksi untuk jual beli jangka pendek, dan mana yang disimpan buat investasi jangka panjang. Dan kini, dia merasa nyaman bekerja dari rumah dan dari manapun sebagai investor pasar modal. Manfaat internet betul-betul dirasakannya.
Cukupkah bermain saham menopang biaya hidupnya? Rasanya kalau melihat kehidupan mereka sehari-hari dan sekolah swasta anak-anaknya saat ini, kondisi tersebut sudah bisa menjawab. Cukup, dan mungkin lebih karena ada "tabungan" saham jangka panjang mereka.
Seorang teman lain, tetap menjadikan saham sebagai pekerjaan "selingan". Hasilnya cukup lumayan untuk pekerjaan sampingan. Dengan investasi cukup besar, sekitar Rp100 juta, dalam beberapa bulan saja, saham yang dipilihnya menghasilkan "cuan" sampai Rp10 juta.
Bagi pemula, memang tidak mudah untuk langsung beralih bermain saham. Tapi coba-coba, atau ikut pelatihan singkat yang diadakan oleh perusahaan sekuritas, rasanya tidak buruk untuk dicoba. Beberapa perusahaan sekuritas yang menyediakan aplikasi praktis untuk bertransaksi saham. Tinggal ikuti saja petunjuk dan panduannya, atau datang langsung ke kator perwakilan mereka.
Dengan biaya investasi saham yang semakin terjangkau oleh masyarakat, bermain saham rasanya tak salah untuk dicoba.
Untung Besar Tapi Risiko Juga Besar
High risk, high return. Katanya, itu adalah prinsip bermain saham. Seorang investor harus siap dengan risiko tinggi ketika harga saham yang dibelinya kemudian turun. Meskipun ada potensi untung besar jika harga saham pilihannya mengalami kenaikan sangat tinggi.
Risiko terbesar pemain saham, menurut kawan saya, memang ketika dia bermain sebagai trader. Namun kemampuan buat analisa akan meminimalisir kerugian.Â
Misalnya untuk jual beli saham dalam jangka pendek. Malah banyak orang yang berani beli saham pagi saat pembukaan bursa saham, dan dijual sore menjelang penutupan. Kalau seperti itu, dengan saham yang mau tak mau harus dia beli dan harus dijual jangka pendek karena modal terbatas, risikonya juga tentu sangat besar.
Tetapi, kawan saya ini mengatakan, prinsip investor jangka panjang bukan seperti itu. Menurut dia, saham-saham milik perusahaan yang memiliki kinerja baik secara riil, kemungkinan besar akan selalu naik nilai sahamnya untuk jangka panjang.