"Kumpulan Cerita Rakyat Jepang"Â
Laut Dalam Kehidupan Rakyat Jepang
Urashima adalah nelayan muda yang hidup di pedalaman pantai Jepang. Setiap malam pergi melaut untuk menangkap Ikan. Pagi hari, Urashima menjual hasilnya ke pasar. Disamping hidup bersama anak istri yang mencintainya, begitulah keseharian Urashima.
Suatu hari ketika melaut, Urashima tersesat ke sebuah tempat yang sangat misterius dan keramat. Dalam keadaan setengah tidak sadar karena terbuai suasana laut yang indah, seorang Putri Palung Samudra meraih tubuh Urashima dan membawanya ke Istana laut yang terletak jauh di bawah laut.Â
Sambil melantunkan syair-syair indah, Putri Palung Samudra mengajak Urashima tinggal di Istana Laut yang indah. Namun Urashima menolak. Urashima berkeras ingin pulang ke daratan menemui anak istrinya. Meskipun Putri Palung Samudra tidak berhenti membujuknya.
Karena Urashima bersikeras ingin pulang, Putri Palung Samudra pun mengantarkan Urashima kembali ke kampung halamannya. Tapi ternyata dimensi waktu di dasar laut berbeda dengan daratan. Kembali ke kampung halaman, Urashima tidak menemukan keluarganya. Mereka semua sudah meninggal dimakan usia.Â
Penduduk yang ada pun tidak mengenal Urashima. Karena mereka adalah generasi baru yang tidak sezaman dengan Urashima. Hanya seorang Kakek tua yang pernah mendengar nama Urashima ketika dia kecil. Itupun hanya mendengar tidak pernah bertemu Urashima.
Nurul Hanafi yang menuliskan kembali cerita ini dalam buku "Kumpulan Cerita Rakyat Jepang", menempatkan hikayat Urashima sebagai pembuka cerita. Di halaman belakang buku yang diterbitkan Penerbit Kakatua ini, dituliskan bahwa legenda Urashima adalah diantara cerita Rakyat Jepang klasik yang paling sering dituturkan secara lisan sampai sekarang. Bersama dengan 18 cerita Rakyat Jepang yang ada di buku ini.
Bila hikayat Urashima kita lihat secara geographis, maka bukan hanya cerita Urashima saja yang menjadikan Laut sebagai latar. Di dalam buku ini cerita berjudul si Nelayan dan Putri Rembulan, juga ada hikayat Ubur-Ubur. Makhluk laut yang awalnya memiliki cangkang yang sangat kuat dan keras sehingga tidak ada  yang berani menganggunya.Â
Tetapi karena berkhianat kepada Raja Laut, Ubur-Ubur kehilangan cangkangnya. Atau cerita tentang struktur bumi yang sebetulnya berada diatas punggung Ikan laut sehingga gempa terjadi bila Ikan nya bergerak. Hikayat Bumi diatas punggung Ikan laut ini, berbeda dengan cerita rakyat negara lain yang mengatakan kalau Bumi itu berada diatas punggung kura-kura.
Bila dibandingkan dengan buku cerita rakyat sebelumnya yang dituturkan ulang Nurul Hanafi dan Penerbit Kakatua ini, yaitu kumpulan cerita rakyat Korea, kumpulan cerita rakyat China dan kumpulan cerita rakyat Asia Tenggara, maka hikayat berlatar laut ini tidak kita temukan di ketiga buku kumpulan cerita sebelummya.Â
Dengan asumsi Nurul Hanafi tidak mendapatkan cerita rakyat populer tentang laut di Korea, Cina dan Asia Tenggara, maka sepertinya Jepang adalah negara di Asia Timur yang mempunyai tradisi cerita rakyat berlatar Laut. Atau dengan kata lain, dibanding negara-negara Asia Timur lainnya, Jepang adalah negara yang sangat akrab dengan Laut.
Kedekatan masyarakat Jepang dahulu dengan Laut, pada akhirnya tidak hanya berimplikasi secara sosial tapi juga politik. Secara sosial, kedekatan dengan Laut membuat masyarakat Jepang mahir dalam mengolah makanan yang berasal dari Laut. Karenanya tidak aneh bila Jepang dikenal sebagai salah satu negara pengkonsumsi makanan laut tertinggi di dunia.
 BBC dalam salah satu film dokumenter nya tentang Jepang, "Japan with Sue Perkins", sempat mendokumentasikan tentang beberapa nenek-nenek Jepang yang masih bisa menyelam meski sudah lanjut usia.
Pantai, sebagai batas antara Laut dan Daratan, pada masanya adalah pusat interaksi antara penduduk lokal dan pendatang. Karena terbiasa bertemu dengan orang-orang baru juga berbeda, selain terbiasa berdagang maka masyarakat pesisir juga dikenal sebagai masyarakat terbuka.Â
Terbiasa dengan ide-ide baru dan menerima kedatangan orang baru dan berbeda. Pada zaman digital sekarang, tradisi ini tentunya bergesar. Bukan Pantai lagi yang menjadi penentu orang terbiasa berinteraksi dengan hal baru, tetapi jaringan internet.
Karena terbiasa melihat sesuatu yang baru dan tahu ada sesuatu yang lebih dari tempat yang didiami, secar politik budaya Laut juga menstimuli manusia untuk mengembangkan watak mengembangkan watak ekspansionisnya. Sebagai negeri yang mempunyai ikatan yang kuat dengan Laut, Jepang adalah negara Asia Timur yang kerap melakukan penaklukan ke negara lain.
"Crash Landing on You", drama Korea yang pernah hits di tahun 2019, menyinggung sekilas traumatik sejarah masyarakat Korea Utara dan Selatan pada Jepang. Dalam Drama berlatar permusuhan antara Korea Utara dan Korea Selatan itu, digambarkan tentang tentara Korea Utara yang sangat antusias mendukung tim Sepakbola Korea Selatan yang bertanding melawan tim Jepang.
 Padahal sebagai orang Korea Utara mereka didoktrin untuk memusuhi dan membenci saudara-saudaranya di Korea Selatan. Begitu juga dalam "Mr.Sunshine". Berlatar masa kerajaan, digambarkan tentang tiga negara yang sedang melakukan inspasi ke Korea selatan, yaitu Amerika, Inggris dan Jepang.
Bila kita tarik lebih jauh lagi, maka kita juga akan menemukan salah satu negara di Eropa yang sempat menjadi penguasa dunia karena akrab dengan Laut, yaitu Inggris dengan Royal Navy atau angkatan lautnya.
Dalam salah satu bukunya, "Sapiens", sejarawan Yuval Noah Harari sempat menyinggung proses Inggris menjadi imperium global. Dalam bab berjudul "Perkawinan Sains dan Imperium" Harari menceritakan persekutuan antara "Royal Society of London for the Improvement of Natural Knowledge", sebagai representasi lembaga keilmuan di Inggris, dengan Royal Navy, Angkatan Laut Inggris Inggris.
Menurut Harari, antara abad ke 16-18 problem utama pelayaran dunia bukanlah ancaman penduduk lokal, kapal perang musuh atau rindu kampung halaman para awal kapal, tetapi Skorbut. Sejenis penyakit misterius yang kerap menyerang awak kapal. Pelayar yang terserang penyakit ini akan menjadi lesu, depresi, gigi rontok, muncul luka lepuh terbuka, demam, sakit kuning dan kehilangan kendali atas anggota tubuh mereka. Karena belum ditemukan pencegahannya, pada abad itu diperikirakan sekitar 2 Juta pelaut meninggal karena Skorbut.
Namun ekspedisi militer dan sains kerjasama antara Royal Society of London dan Royal Navy berhasil menemukan solusi dari penyakit Skorbut, yaitu Vitamin C. Dalam sebuah ekspedisi sains yang dipimpin Kapten James Cook, pelaut sekaligus ahli geografi dan etnografi Inggris, perwira Royal Navy ini tidak hanya memuat kapalnya dengan acar kol dalam jumlah yang sangat banyak, tetapi juga memerintahkan pelautnya untuk makan buah dan sayur dimanapun kapal bersandar di darat. Hasilnya, Cook tidak kehilangan seorang pelaut pun karena penyakit Skorbut.
Menurut Harari, ekspedisi Cook ini meletakan landasan bagi pendudukan Britania atas Pasific barat daya, penaklukan bagi Australia, Tasmania, Selandia Baru, pemukiman jutaan orang Eropa di koloni-koloni baru dan pemusnahan kebudayaan-keubdayaan asli dimana sebagaian besar adalah populasi asli.
Di Indonesia sendiri, riwayat kejayaan nusantara adalah riwayat tentang pelaut-pelaut nya yang tangguh. Tentang orang-orang Nusantara yang bisa membuat Kapal tahan hantaman gelombang dan cuaca laut dari kayu-kayu berumur tua yang kuat. Namun seperti yang sudah kita ketahui, hikayat-hikayat seperti itu seperti hilang dan tidak terceritakan kembali.
Bila kita kembali ke buku "Kumpulan Cerita Rakyat Jepang" sebagai sebuah sastra klasik masyarakat Jepang, maka surutnya hikayat-hikayat yang berkaitan dengan dunia Laut di Indonesia bisa kita lihat pada pemahaman orang tentang salah satu tokoh sastra yang pernah dimiliki Indonesia; Pramoedya Ananto Toer.Â
Banyak orang mengenal dan mengkaitkan Pram dengan tetralogi Bumi Manusia. Padahal bila kita review lebih lengkap lagi, selain tetralogi itu, Pram juga telah menulis sebuah karya sastra yang tidak kalah menarik dan mesti dibaca, yaitu "Arus Balik". Novel yang menceritakan awal keruntuhan Nusantara dengan budaya Maritim sebagai lanskap nya. Â Â Â
Delianur
Bandung, 09 Agustus 2021
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H