Sebagai orang yang menulis karena suka-suka, tentu agak khawatir jika kemudian ada permasalahan akibat perbuatan jemari saya. Namun, entah kenapa setelah timbang sana-sini, saya akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar.
Seingat saya, November 2018, saya bergabung dengan Kompasiana. Saat itu momennya ada turnamen sepak bola yang diikuti timnas Indonesia. Maka, tidak mengherankan jika tulisan pertama saya adalah sepak bola dan timnas.
Coba baca: Tetap Mendukung Timnas
Tetapi, merujuk pada awal mula saya diapresiasi di blog, memang tulisan saya sebagian besar tentang sepak bola. Itulah kenapa, saya berusaha konsisten menulis tentang sepak bola di Kompasiana.
Saya merasa terbukakan peluang untuk membangun kepercayaan diri juga dari sana. Ada yang mengapresiasi, maka saya mencoba untuk berkembang. Dari sana kemudian saya seperti saat ini.
Tentunya, masih sebagai orang yang biasa-biasa saja. Tetapi, saya sekarang sudah cukup percaya diri untuk menyebut diri saya sebagai penulis, yang sebelumnya tidak seyakin itu.
Saya bersyukur, Kompasiana mengapresiasi kehadiran saya. Mau membuka diri kepada saya, meski saya berlatar belakang antah-berantah. Tidak seperti orang lain yang sudah bermodalkan status sosial yang luar biasa.
Saya justru merasa terbangunkan status sosial saya karena Kompasiana. Akhirnya, saya menemukan wadah yang bisa dikatakan sangat menampung orang yang seperti saya.
Mereka juga awalnya tidak terlalu ambil pusing dengan aktivitas saya di media sosial, karena saya memang sudah tidak lagi sering bermain media sosial. Tetapi, lagi-lagi Kompasiana juga secara tidak langsung mendorong saya untuk kembali terbuka dengan publik dunia maya.
Salah satunya dengan Instagram. Media sosial yang sebenarnya sangat tidak sesuai dengan saya saat ini. Tetapi, demi tidak sering dicap sebagai orang sombong, saya mencoba untuk membuat akun Instagram.
Meskipun saya akhirnya punya akun Instagram (lagi), tapi saya memilih untuk lebih fokus menulis di Kompasiana. Bukan bermaksud mencari muka kepada Kompasiana.