Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pindah Kewarganegaraan Tidak Segampang Pindah Kos

14 Oktober 2020   05:17 Diperbarui: 14 Oktober 2020   20:48 315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Di mana pun kita berada harus dapat berinteraksi. Gambar: Pexels/Jopwell

Ketika proses adaptasi dengan lingkungan terdekat sudah, maka proses beradaptasi harus dikembangkan. Sewaktu-waktu, kita pasti akan mendapatkan ajakan atau keharusan untuk pergi ke tempat lain. Bahkan, bisa saja tempat itu awalnya "tidak terendus" di map.

Hal ini saya alami ketika suatu waktu diharuskan berkunjung dan tinggal di daerah yang jauh dari tempat saya bermukim. Hasilnya, saya kembali harus beradaptasi.

Di mana pun kita berada harus dapat berinteraksi. Gambar: Pexels/Jopwell
Di mana pun kita berada harus dapat berinteraksi. Gambar: Pexels/Jopwell
Dua landasan adaptasinya adalah bahasa dan budaya. Memang, saya beruntung karena bahasa di tempat itu adalah bahasa daerah yang sudah saya kenal. Tetapi, penggunaan bahasa daerah di situ terdengar berbeda dibandingkan di tempat saya bermukim.

Bukan tentang kosakatanya, tetapi tentang adabnya. Begitu pun tentang rasa. Rasa dalam berbahasa tentu akan berbeda antara tempat tinggal saya yang di daerah kotanya, dengan daerah desanya.

Di kota, saya masih dimaklumi--dan memaklumi diri--jika menggunakan bahasa Indonesia, agar lebih lancar saat berkomunikasi dengan orang setempat. Namun, rasa pemakluman ini sedikit terganggu jika berada di desa.

Meskipun orang setempat akan memaklumi jika saya berbahasa Indonesia karena faktor wajah saya yang "berbeda". Tetapi, di pikiran saya tetap ada keinginan untuk berkata "saya ini sudah tinggal lama loh di pulau ini", yang artinya saya juga ingin diakui sebagai "putra daerah".

Pemikiran semacam ini saya yakini juga pasti ada bagi orang-orang yang sudah (telanjur) pindah kewarganegaraan. Buktinya, pemain naturalisasi timnas pasti berupaya keras untuk membuktikan kecintaannya dan jaminan pengakuan bahwa dirinya sudah 100% berjuang untuk "ibu angkatnya".

Hal ini belum ditambah dengan budaya. Berbeda tempat walau di kota yang sama, bisa saja adab dalam berinteraksi dan berperilakunya berbeda. Ini sebenarnya yang perlu diperhatikan, dan saya pikir semua negara pasti memiliki daerah-daerah yang mengutamakan hal itu.

Saya terkadang tidak memusingkan adanya orang yang tidak suka dengan cara bertingkah saya. Namun, di lain waktu terkadang saya merenungkan rekam jejak tersebut. Siapa tahu, ada orang yang salah paham dengan apa yang saya katakan atau saya perbuat.

Mengenai salah paham ini, menurut saya krusial dalam hal berinteraksi. Apalagi, kalau ada perbedaan latarbelakang, pasti akan muncul percikan-percikan kesalahpahaman. Itu yang sebaiknya kita hindari.

Lalu, tentang nilai tukar. Bagi saya itu juga sangat penting untuk diperhatikan. Sekali lagi, bahan dasar berpikir saya hanyalah pengalaman berpindah kota, bukan negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun