Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Keyakinan yang Tidak Akan Luntur Melalui Ucapan

25 Desember 2018   16:23 Diperbarui: 25 Desember 2018   16:30 179
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Artinya, agama sudah menjadi hasil pengolahan pemikiran yang matang yang kemudian menjadi pilihan tanpa lagi terikat oleh ras dan suku.

Begitupula seharusnya yang terjadi, ketika kita telah menjumpai adanya perayaan dari semua agama di Indonesia. Yaitu, toleransi.

Jika cinta dan pernikahan menumbuhkan toleransi dan penyatuan,  maka, seharusnya status kita sebagai masyarakat Indonesia yang sudah tersahkan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP)---apalagi jika terlahir dan besar di tanah Indonesia---juga dapat membimbing kita untuk dapat memaklumi terhadap rasa kebahagiaan dari sesama yang sedang merayakan hari besar agamanya dengan toleransi.

Artinya, sudah saatnya kita tidak lagi berdebat tentang bolehkah kita turut bergembira dengan saudara kita yang berbeda agamanya yang sedang merayakan hari besarnya?

Bolehkah kita mengucapkan selamat terhadap perayaan hari besar tersebut?

Dan bolehkah-bolehkah lainnya, yang masih memperlihatkan bahwa kita masihlah sangat kaku untuk menerima adanya perbedaan di sekitar kita. Padahal, menyatukan perbedaan dengan cinta dan pernikahan itu lebih sulit dibandingkan hanya sekadar memberikan ucapan selamat.

Apa sulitnya dan dosanya ketika kita memberikan ucapan selamat kepada teman yang berbeda agama dibandingkan saat kita terus menggunjing orang lain tentang keburukannya---apalagi jika yang digunjing adalah yang seagama.

Lebih berdosa mana, mempergunjing keburukan orang yang seagama dengan memberikan ucapan selamat kepada orang yang berbeda agama?

Masihkah takut mengucapkan selamat kepada yang berbeda agamanya, padahal itu tidak akan mengurangi iman dan ketakwaan kita terhadap agama yang dianut?

Masihkah berpikir bahwa mengucapkan selamat itu akan menggoyahkan iman kita terhadap ajaran agama yang (biasanya) telah dianut sejak kecil?

Bagaimana dengan perilaku menggunjing dan menjelek-jelekkan orang lain tanpa peduli dia siapa dan dari mana---apalagi jika digunjing berdasarkan perbedaan agama, suku, dan rasnya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun