"Dukung Jokowi dua periode, TGB takut pembangunan di NTB berhenti. Allah berikan pelajaran, gempa sedikit saja pembangunan di NTB rusak dan tidak berarti. Gusti Allah mboten sare" cuitan akun di twitter yang menamakan dirinya @AbbasFirman pada 29 Juli 2018. Sebuah cuitan yang jauh dari rasa empati terhadap korban bencana di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Parahnya lagi, cuitan yang minim empati kemanusiaan terhadap korban gempa di NTB itu juga membawa-bawa nama Allah SWT, Tuhan pencipta alam.Â
Entah sadar apa tidak, penulis tweet itu mengatasnamakan Tuhan untuk membenarkan tafsirannya atas kejadian gempa di NTB. Tanpa sadar, gempa di NTB telah dipolitisasi menurut selera dan kepentingan politik dari akun tersebut.
Memang benar di berbagai kitab suci, diinformasikan bahwa Allah mendatangkan bencana bagi kaum yang durhaka dan melampaui batas dalam kehidupannya. Namun, apakah lantas kita secara ugal-ugalan menafsirkan bahwa gempa di NTB adalah azab Allah terkait pilihan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi untuk mendukung Jokowi dalam pilpres 2019? Hanya Allah yang mengetahui.Â
Kita tidak bisa dan tidak boleh mengatasnamakan Allah untuk menafsirkan gempa yang terjadi di NTB berdasarkan kepentingan politik kita. Tuhan adalah tujuan kita dalam beraktifitas bukan 'tukang stempel' untuk membenarkan sikap dan kepentingan politik kita.Â
Jika kita telah menempatkan Tuhan menjadi sekedar 'tukang stempel' untuk membenarkan kepentingan politik kita, secara tidak sadar kita telah menjadikan kepentingan politik kita sebagai berhala baru. Ini yang justru sangat-sangat berbahaya.
Dari ilmu alam kita mengetahui bahwa Indonesia  berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua.Â
Kondisi geografis ini di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa, dan tsunami namun di sisi lain menjadikan Indonesia sebagai wilayah subur dan kaya secara hayati.
Dengan berbekal ilmu alam tentang kondisi geografis Indonesia itu, sudah seharusnya kita bersyukur kepada Tuhan yang menciptkan alam. Salah satu caranya adalah kita mempersiapkan diri untuk selalu beradaptasi dengan gempa dan berbagai bencana alam yang mungkin terjadi.Â
Bukankah Allah, sudah menganugerahkan kita akal untuk mengelola dan juga beradaptasi dengan alam untuk melanjutkan kehidupan di muka bumi?
Politisasi bencana di NTB bukan saja tidak empati dan menempatkan Tuhan sebagai 'tukan stempel' untuk membenarkan kepentingan politik kita, namun juga mengisitirahatkan akal sehat yang merupakan anugerah terbesar Tuhan bagi umat manusia untuk mengelola dan beradaptasi dengan alam. Politisasi bencana justru akan menjerumuskan kita menjadi seseorang yang kufur nikmat alias tidak bersyukur.
Politisasi bencana juga pernah terjadi dalam kasus Lumpur Lapindo. Beberapa orang mengatakan bahwa korban lumpur Lapindo adalah orang-orang yang gemar maksiat sehingga diazab Allah dengan munculnya semburan lumpur Lapindo. Benarkah demikian? Lagi-lagi Allah yang tahu.Â
Dalam kasus semburan lumpur Lapindo, justru yang kita tahu adalah Tuhan telah menjadi kambing hitam dalam kasus itu. Akibatnya, persoalan tambang di kawasan padat huni seperti di wilayah Porong Sidoarjo, dalam kasus lumpur Lapindo, tidak dijadikan pokok persoalan. Ujungnya adalah hingga kini tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab untuk merehabilitasi ekologi yang hancur.
Betapa dahsyat akibat buruk dari politisasi bencana itu. Untuk itu, sudah saatnya kita berhenti melakukan politisasi bencana. Saatnya kita berempati terhadap korban bencana dan juga menggunakan akal sehat untuk dapat beradaptasi dengan alam yang telah dianugerahkan Allah kepada kita semua.
InsyaAllah, dengan itu kita dapat bersyukur atas segala anugerah-Nya pada kita sebagai umat manusia. Bagaimanapun juga hidup bukan hanya soal pilpres 2019.Â
Merawat rasa kemanusiaan kita lebih penting daripada sekedar dukung mendukung elite di perhelatan politik elektoral lima tahunan itu. Kecuali kita memang sudah berkoalisi dengan setan untuk sekedar merebut kursi kepresidenan di 2019.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H