Sejak Indonesia merdeka, kurikulum pendidikan telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum.
Jika kita menelusuri sejarah perkembangannya, maka sejak kurikulum pertama tahun 1947 sampai tahun 2022, negara kita sudah mengalami 11 kali perubahan, yang mana pada tahun ini akan dimulai kurikulum baru, yakni Kurikulum Merdeka.
Setiap kali ada perubahan kurikulum, pemeo "ganti manteri, ganti kurikulum", sering kita dengar. Apakah pemeo ini sudah tepat? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu memahami bersama beberapa hal mendasar tentang perubahan kurikulum.
Sifat dasar dan prinsip Kurikulum
Berbagai kebijakan dalam membuat perubahan suatu kurikulum didasarkan pada hasil analisis, evaluasi, prediksi yang disesuaikan dengan perkembangan dan situasi pada zamannya.
Maka hal mendasar yang perlu diketahui adalah kurikulum sebagai sebuah produk kebijakan bersifat dinamis, kontekstual, dan relatif.
Dikatakan dinamis karena kurikulum harus dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman dan membuka diri terhadap kritik yang membangun.
Disebut kontekstual sebab kurikulum harus didasarkan pada kebutuhan yang sesuai dengan pada konteks zaman yang sedang berkembang.
Sedangkan kurikulum dinamakan relatif karena suatu kebijakan kurikulum yang dipandang baik dan efektif pada zamannya, bisa menjadi tidak relevan pada zaman-zaman berikutnya. Maka change and continuity, menjadi prinsip dasar dari kebijakan kurikulum. Â
Kerangka Kurikulum
Pertama-tama perlu dipahami bahwa ada dua perbedaan kerangka kurikulum, yaitu kurikulum nasional dan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Kurikulum nasional adalah kurikulum yang telah dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah, sebagai acuan bagi para guru untuk menyusun kurikulum di tingkat satuan pendidikan.