Mohon tunggu...
Putu Darmika Susilawati
Putu Darmika Susilawati Mohon Tunggu... Lainnya - Pelajar

Halo saya ingin membagikan tulisan saya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mengikis Diskriminasi di Tengah Pandemi

4 September 2020   19:38 Diperbarui: 4 September 2020   19:40 268
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat beragam, Negara kepulauan ini memiliki beragam suku bangsa, agama, ras, etnik, dan golongan didalamnya. Memiliki 17.504 pulau serta dihuni oleh sekitar 255 juta jiwa membuat Indonesia sebagai Negara di urutan keempat dengan populasi penduduk terbesar di dunia.Memiliki penduduk yang besar serta adanya keragaman mengharuskan timbulnya  sikap toleransi yang kuat antar penduduk agar tidak terjadi perpecahan, pertentangan, serta kesalahan paham. 

Dengan banyaknya penduduk serta beragamnya suku, Indonesia memiliki sebuah semboyan dalam mempersatukan bangsa yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika memiliki makna berbeda beda tetapi tetap satu jua, semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

Namun, masih banyak kasus-kasus diskriminasi maupun intoleran yang terjadi di Indonesia.Diskriminasi merupakan sikap, perilaku maupun tindakan yang mencerminkan ketidakadilan yang dilakukan baik secara individu maupun secara berkelompok. Sedangkan intoleransi merupakan perilaku yang mengabaikan nilai-nilai toleransi seperti perasaan empati kepada seseorang maupun kelompok yang berbeda dari segi agama, ras, golongan, dan sebagainya. 

Mengutip dari IDN Times beberapa kasus diskriminasi yang terjadi tersebut diantaranya kebaktian di Sabuga Bandung dibubarkan oleh ormas islam yang terjadi pada 16 November 2016 lalu, penyerangan Klenteng Kediri pada 13 Januari 2018, serta kasus Biksu yang dilarang beribadah di Tanggerang pada 7 Februari 2018 silam. Kasus-kasus tersebut terjadi karena kurangnya rasa toleransi antar umat beragama serta adanya sikap egosentrisme.

Banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi saat ini menandakan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya menjalin hubungan yang baik antar individu serta pentingnya menumbuhkan sikap toleransi kepada sesama, terkhusus Indonesia merupakan Negara yang multikultural.  

Sebagai Negara multikultural di Indonesia tentu memiliki paham-paham yang berbeda yang tumbuh dan berkembang dimasyarakat, perbedaan paham maupun pandangan ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya sikap intoleransi. Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Gatot Eddy Pramono dalam kompas.com menjelaskan bahwa sikap intoleransi terjadi disebabkan diantaranya, perkembangan situasi global yang mengikis nilai nilai ketimuran khususnya toleransi, serta perkembangan media sosial yang banyak menyebarkan isu intoleransi.  

Meninjau situasi pandemi saat ini dengan merebaknya penyebaran virus covid 19 menjadikan masyarakat semakin sensitif terhadap isu yang beredar. Banyaknya informasi yang ada serta adanya kecemasan masyarakat yang berlebih membuat timbulnya kekeliruan dalam mencerna informasi yang ada. Masyarakat berlomba lomba dalam mencari informasi terkait covid 19 tanpa memastikan kebenaran serta sumber yang jelas. Kominfo mencatat terdapat 1.401 sebaran isu hoax terkait Covid 19.

Informasi hoax yang beredar tersebut membuat beberapa kelompok masyarakat malah menyoroti pasien covid 19 dan berpandangan buruk terhadap mereka. Selain itu dengan meningkatnya menambahan kasus pasien positif covid 19 membentuk adanya stigma negatif di masyarakat. Stigma negatif yang melekat di masyarakat inilah akan akan menyebabkan perilaku yang kurang baik serta menyebabkan adanya sikap diskriminatif terhadap pasien covid 19.

Mengutip dari IDN Times salah satu kasus diskriminasi dialami oleh Rifaldi Madina, warga Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo yang mendapat perilaku yang kurang baik dari orang-orang disekitarnya, meskipun sudah sembuh ia tetap mendapatkan stigma negatif di lingkungannya, ditambah adanya anggapan bahwa pasien sembuh masih membawa sisa-sisa virus corona yang dapat menjangkiti orang lain. Selain pasien, keluarga pasien pun mendapatkan perlakuan yang sama oleh masyarakat, seperti diasingkan, diajuhi bahkan di cap masih membawa virus.

Selain kepada pasien covid 19 stigma negatif serta perlakuan diskriminatif ini juga diterima oleh PDP (Pasien Dalam Pengawasan) serta OPD (Orang Dalam Pantauan). Sebenarnya masyarakat melakukan hal tersebut sebagai bentuk ketakutan atau kecemasan diri mereka serta sebagai bentuk proteksi agar tidak terjangkit virus corona, namun sangat disayangkan mereka melakukannya dengan cara yang salah melalui sikap diskriminatif, dan juga kurangnya pemahaman masyarakat yang menyebabkan sebagian kelompok menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Bukan hanya pasien covid 19, sikap diskriminatif juga diberikan kepada mereka yang sedang sakit walaupun tidak terjangkit virus corona. Karena gejala-gejala yang ditunjukkan pasien covid 19 memiliki kesamaan dengan gejala flu membuat masyarakat salah tafsir terhadap orang lain. Hal ini tentu membuat sebagian orang merasa tersinggung, mereka tentunya memiliki perasaan yang sama seperti kita jika diperlakukan demikian. Sebaiknya kita harus mengetahui kebenarannya terlebih dahulu sebelum berpandangan negatif terhadap orang lain.

Terkhusus kepada pasien covid 19 sebagai seorang manusia, ia juga tentu akan merasakan ketakutan seperti yang kita rasakan. Sebaiknya kita juga harus menempatkan diri kita sebagain mereka, dengan adanya penyakit yang datang pada mereka ditambah adanya tekanan tekanan dari masyarakat luar akan menyebabkan kondisi mental pasien buruk. Ada baiknya sebagai sesama manusia kita harus saling menyemangati agar mereka juga bisa bangkit dan berjuang demi kesembuhannya.

Nabila Amalina Rozi dari komunitas SabangMerauke, sebuah organisasi yang bergerak di bidang toleransi menyebutkan bahwa pasien covid 19 membutuhkan semangat dan dukungan dari masyarakat, mereka tentu mengalami ketakutan serta stress. Dengan berucap dan berperilaku baik akan sangat menolong mereka karena kita tidak menambah beban mereka.

Perlu adanya upaya dan kerjasama yang kita lakukan untuk menghentikan tindakan diskriminatif yang dilakukan kepada pasien covid 19 , PDP(Pasien Dalam Pengawasan), ODP (Orang Dalam Pantauan) maupun kepada keluarga pasien. Meskipun hal ini tidak mudah ditambah lagi dengan masyarakat Indonesia yang heterogen yang menyebabkan perbedaan perspektif, namun kita juga harus berusaha agar tidak terjadi tindakan yang tidak seharusnya di masyarakat. Dalam menciptakan hal tersebut, tentunya pertama kita harus membekali diri dengan pemahaman tentang pandemi yang terjadi sekarang ini agar orang-orang tidak salah kaprah dalam menghadapi hal yang terjadi.  

"Dengan meningkatkan pemahaman masyarakat soal pandemi ini, tidak hanya secara fisik tapi mungkin juga psikologi, jadi orang bisa lebih paham sama perasaan dan pemikiran orang lain", ungkap Nabila saat ditanya mengenai tentang cara menumbuhkan sikap toleransi di tengah pandemic khususnya terhadap pasien covid 19.

Pandemi covid 19 ini merupakan situasi global yang terjadi di berbagi Negara di dunia tidak hanya di Indonesia. Dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang hal ini akan menimbulkan berbagai dampak khususnya kesalahpahaman yang akhirnya menimbulkan sikap diskriminatif di masyarakat. Di masa sulit seperti sekarang ini seharusnya kita dapat saling mendukung, bukannya saling menentang satu sama lain. 

Kembangkanlah nilai-nilai toleransi yang kita miliki bukannya stigma negatif yang justru merugikan bahkan menyakiti orang lain, jangan sampai dengan adanya pandemi sedikit demi sedikit hal tersebut memudar.Mari dukung upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi ini, laksanakanlah protokol kesehatan sebagai sarana proteksi diri tanpa harus merugikan pihak lain. 

Tulisan ini dibuat oleh Peserta Remaja Belajar Menulis Konten Musim 3 Bastra ID

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun