Filsafat yang terkandung dalam ungkapan bahasa Nias "Amuata nifaigi ba bua-bua nitöngöni" yang berarti "Orang dinilai dari kelakuan dan budi pekerti" mengandung pesan yang mendalam, khususnya bagi anak muda.
Makna filsafat ini mengajarkan bahwa kepribadian dan tindakan seseorang adalah ukuran sejati untuk menilai karakter mereka, bukan penampilan luar atau reaksi emosional sesaat. Beberapa poin yang bisa diambil dari ungkapan ini adalah:
1. Kedewasaan dalam Berperilaku
Anak muda diajak untuk berhati-hati dalam bertindak. Tindakan yang terburu-buru atau didorong emosi tidak akan mencerminkan siapa diri seseorang yang sebenarnya. Oleh karena itu, penting untuk menunjukkan kelakuan yang baik dan budi pekerti yang terpuji.
2. Pentingnya Budi Pekerti
Dalam kehidupan sosial, budi pekerti yang baik seperti kejujuran, kesabaran, dan rasa hormat kepada orang lain menjadi ukuran utama dalam menilai seseorang. Ini mengingatkan bahwa karakter yang baik lebih dihargai daripada penampilan atau pencapaian sesaat.
3. Tanggung Jawab atas Tindakan
Setiap tindakan yang dilakukan, baik yang dilakukan dengan sadar atau spontan, akan mencerminkan siapa kita di mata orang lain. Oleh karena itu, penting untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab terhadap setiap pilihan.
4. Pentingnya Refleksi Diri
Ungkapan ini juga mengajarkan bahwa sebaiknya kita tidak cepat menilai atau menghakimi orang lain hanya dari sikap atau tindakan yang tampak di luar. Sebaliknya, orang lain pun akan menilai kita berdasarkan bagaimana kita berperilaku dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Filsafat dalam peribahasa "Amuata nifaigi ba bua-bua nitöngöni" mengajarkan anak muda Nias untuk bertindak dengan bijaksana, menjaga budi pekerti, dan selalu mengendalikan emosi. Dengan demikian, mereka akan dihargai karena karakter dan kelakuannya, yang lebih penting daripada penampilan atau tindakan impulsif. Filosofi ini sangat relevan untuk membentuk generasi muda yang dewasa, bertanggung jawab, dan penuh integritas.