Bab 1: Mimpi yang Tertanam
_Di sebuah desa yang damai, terletak di antara bukit-bukit hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Aksa. Desa Lembah Senja dikenal dengan keindahannya yang alami, namun juga dengan keterbatasannya. Aksa bukanlah orang yang menonjol di tengah-tengah kehidupan desa yang sederhana, namun ada satu hal yang membedakannya: semangat untuk mewujudkan impian besar.
Sejak kecil, Aksa menemukan dunia yang luas melalui buku. Setiap kali ada kesempatan, ia selalu membaca---baik itu buku lama yang ditemukan di pasar, maupun buku-buku yang ia pinjam dari teman-temannya. Baginya, buku adalah jendela menuju dunia yang tak terbatas, dunia yang penuh dengan pengetahuan dan peluang.
Suatu sore, ketika melihat anak-anak desa yang sedang bermain, Aksa merasa tergerak. Ia menyadari bahwa mereka, seperti dirinya dulu, perlu memiliki kesempatan untuk lebih berkembang, belajar, dan bermimpi lebih tinggi.
"Aku ingin membuat tempat di mana anak-anak desa ini bisa belajar, Raka. Perpustakaan kecil, yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi mereka," ujar Aksa dengan penuh semangat kepada temannya, Raka.
Raka menatap Aksa dengan ragu, "Tapi, Aksa, kita kan tidak punya banyak sumber daya. Bagaimana kita bisa mulai?"
Aksa tersenyum, yakin bahwa setiap impian dimulai dari langkah kecil. "Jika kita tidak mulai bermimpi, siapa lagi yang akan melakukannya? Ini bukan hanya tentang buku, tetapi tentang memberi kesempatan bagi mereka untuk melihat dunia yang lebih besar."
Dengan tekad yang kuat, Aksa mulai menyusun rencananya. Ia menulis daftar impian yang sederhana, namun penuh arti:
1. Mengumpulkan buku sebanyak mungkin.
2. Membuat rak dari bahan yang ada di sekitar desa.