"Ini teman saya wartawan dari Bandung".
Sejak itu kami tak jumpa lagi sampai dikabarkan beliau wafat tanggal 5 Juli 2021.
Semoga beliau wafat dalam keadaan Husnul khatimah. Di tempatkan di janatun Naim, surga yang sejuk yang mengalir sungai sungai di bawahnya. Holidiina fihaa abada, kekal selamanya.
Aamiin yra.
Satu hal lagi catatan dari perjalanan haji ini yang saya tak bisa lupakan. Tahun 1994 itu dinyatakan sebagai haji Akbar. Pernyataan itu disampaikan raja Fahd, 2 hari menjelang pelaksanaan wukuf di Arafah.
Akibatnya jumlah jemaah bertambah banyak. Banyak jema'ah dadakan yang datang dari berbagai negara sekitar Saudi Arabia. Dari Mesir Yaman, Dubai, Yordan dan lain-lain. Juga dari kota kota lain di Saudi. Bahkan juga dari gunung gunung di sekitar Mekkah.
Maka, Arafah, Muzdalifah dan Mina menjadi penuh sesak. Saya melihat orang orang tidur bergeletakan di pinggir. Katanya jumlah jemaah tahun itu mencapai sekitar 5 juta orang. Dua kali lipat dari biasanya.
Sebagai rasa sukur ditetapkannya sebagai tahun akbar, saya dengan teman teman satu regu sepakat menambah kata Akbar di belakang nama masing masing. Saya jadi Dedi Asikin Akbar, yang lain menjadi Edi Supriadi Akbar, Zainal Abidin Akbar dan Didiet Aditya Akbar.
Didiet itu putra Tubagus H. Mohammad Dasep, ketua Pemuda Pancasila Jawa Barat. Didiet masih lajang, usianya baru  16 tahun. Karena itu, Tubagus menitipkan anaknya ke saya. Maka sejak berangkat, selama di sana sampai pulang,  tuh bocah tak pernah jauh. Ngintil terus.
Subhanallah wa bihamdik
Selamat menunaikan ibadah kepada para JCH tahun ini yang sudah mulai berangkat. Semoga mabrur.