Kami, para relawan, sudah tidak pernah bertemu lagi. Mereka hanya bisa mendoakan melalui majelis Yasinan yang setiap malam Jumat rutin diselenggarakan di Pendopo relawan. Dalam setiap yasinan, kami selalu selalu memastikan agar di penghujung doa, nama Ridwan Rasyid Baswedan bin Abdul Rasyid Baswedan jangan sampai lupa disebut bersama nama-nama yang lain seperti Ayahanda Abdul Rasyid Baswedan, Anies Rasyid Baswedan, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, serta para pahlawan lain serta tokoh-tokoh guru utama di Betawi.
Putaran kedua Pilkada, Mas Iwan sudah tidak bisa bergabung lagi. Meskipun demikian, kami telah mewarisi semangat dan ketulusan niatnya. Di putaran pertama, kami sudah banyak belajar dari Mas Iwan. Di putaran kedua, saatnyalah untuk mempraktikkannya. Kami bergerak penuh semangat dan rancak, sehingga akhirnya diberi kemenangan pada 19 April 2017. Berbeda dengan kami yang melihat gegap-gempitanya, nuansa kemenangan itu tak pernah dirasakan oleh Mas Iwan karena beliau musti terus ditidurkan dalam perawatannya. Dokter mengatakan, MasIwan bukan tidak sadar, tetapi sengaja ditidurkan agar obat pelawan infeksi diparu-parunya bisa bekerja dengan lebih baik.
Pagi itu, sebulan setelah Pilkada, pagi-pagi saya mendengar kabar bahwa kondisi Mas Iwan semakin menurun. Keluarga diminta berkumpul di RSCM. Rapat yang sedianya kami gelar pagi itu, dibatalkan. Dan benar, di RSCM saya lihat kondisinya sudah sangat melemah. Dokter menyampaikan harapan tinggal 5%. Isak-tangis pecah.
Saya sudah merasa akan kehilangan orang yang selama ini sudah seperti kakak sendiri. Orang yang kebaikannya tak pernah bisa dipungkiri karena berasal dari hati. Jumat malam Sabtu, 27 Mei 2017, pukul 00.50 WIB Mas Iwan mengembuskan napas terakhirnya di bawah bimbingan dan keikhlasan Sang Ibunda Aliyah Alganis. Innalillahi wainna ilaihi rajiun, sesungguhnya segalanya milik Allah, dan kepada-Nya lah tempat kembali.
Kami telah kehilangan seseorang yang kebaikannya bukan saja dirasakan setelah selesai interaksi, bahkan auranya sudah terasa saat baru pertama kali berkenalan. Kebaikan budi Mas Iwan ini tidak hanya dirasakan oleh kami-kami para relawan, mantan sekretaris di perusahaannya yang lebih dari10 tahun bekerja sama dengan beliau juga kagum dengan keluhuran budinya. Dalam sebuah pesan WhatsApp yang dikirim ke saya, Mbak Anggi (mantan sekretaris Mas Iwan) menulis begini: “Sepuluh tahun bareng… sudah lebih dari seperti abang sendiri. Tiap hari ketemu. Beneer,… baik banget.”
Selamat jalan, Mas Ridwan Baswedan…! Kami menjadi saksi kebaikan-kebaikan yang pernah kau taburkan. Kebaikan-kebaikan itu akan menjadi kendaraanmu menuju pangkuan-Nya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H