Kedua, kriteria pemilihan ormas dan lembaga pendidikan yang ditetapkan lolos evaluasi proposal sangat tidak jelas dan tidak transparan.
Ketiga, Muhammadiyah akan tetap berkomitmen membantu pemerintah dalam meningkatkan pendidikan dengan berbagai pelatihan. Kompetensi kepala sekolah dan guru melalui program-program yang dilaksanakan Muhammadiyah sekalipun tanpa ikut serta dalam POP.
Setali tiga uang NU juga punya pandangan yang mirip dengan Muhammadiyah, sedangkan PGRI mundur karena berbagai pertimbangan di tengah pandemi Covid-19. Menurut PGRI dana POP seharusnya bisa digunakan untuk menunjang kebutuhan infrastruktur sekolah, guru, dan murid. Selain itu, PGRI menilai kriteria penetapan dan pemilihan peserta program organisasi penggerak tidak jelas.
Secara implisit Yayasan Putera Sampoerna dan Tanoto Foundation kemudian menjadi “terdakwanya!” “Mosok CSR perusahaan raksasa mendapat bantuan puluhan miliar rupiah?”
Terpisah, Direktur Komunikasi Tanoto Foundation, Haviez Gautama, menyatakan mereka merupakan salah satu organisasi penggerak yang menggunakan pembiayaan mandiri dengan nilai investasi lebih dari Rp50 miliar untuk periode dua tahun (2020-2022). Tanoto Foundation bekerja sama dengan pemerintah melalui POP Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Nadiem sendiri kemudian memastikan kalau Tanoto Foundation dan Sampoerna sama sekali tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah.
Tak lama kemudian “Nadiem terjatuh dan ketimpa tangga pula.” Kebijakan Nadiem menuai kritik. Mulai profesor hingga anak SD membully Nadiem tak paham dengan situasi pendidikan di Indonesia.
“Makanya sekolah itu gak usah jauh-jauh, apalagi sampai luar negeri segala. Cukuplah di dalam negeri saja biar paham dengan problem pendidikan di dalam negeri.” Ujung-ujungnya Nadiem disuruh meminta maaf kepada Muhammadiyah dan NU. Astaghfirullah al adzim!
Hebatnya Menteri humble ini kemudian meminta maaf kepada ketiga ormas tersebut. Namun ketiga ormas ini tetap memilih untuk tidak terlibat di dalam POP itu lagi. Rupanya maaf saja tidak cukup atau bukan kata maaf itu ternyata yang dipinta.
Pucuk dicinta “kelambu” tiba, “Si-ulam” ternyata belum kelihatan. Kata maaf memang sudah tersurat tapi belum tersirat! Weleh-weleh…”negeri +62-ku, negeri materai enam ribu-ku..”
***
Nah kita harus sepakat dulu dengan premis ini. “Tidak ada kwetiau gratis ataupun udang gratis, apalagi kwetiau udang gratis di negeri ini!” Orang duduk, diam, berdiri atau ngebacot, tentu ada sebab musabab dan tujuannya. Demikian juga dengan program POP dengan segala keriuhan yang diakibatkannya ini!