Bagi Bologna, Arnautovic tak ternilai. Bagi mereka uang tak lebih penting dari jasa pemain itu. Pengalaman dan ketajamannya masih dibutuhkan, setidaknya untuk saat ini.
Sikap Bologna itu dengan sendirinya menaikan posisi tawaran Arnautovic. Namun, hal tersebut tidak otomatis menjadikannya sebagai pemain yang tepat bagi United.
Paniknya Ten Hag
Cara tercepat yang bisa dilakukan Ten Hag untuk menjalankan misinya adalah mendatangkan para pemain yang sudah dikenal dan diketahui kapasitasnya. Sebagai pelatih baru, ia juga dikejar waktu dan ekspektasi.
Ia tidak bisa berlama-lama merenda prestasi. Anggapan bahwa prestasi butuh proses seperti tidak berlaku bagi klub-klub top. Karena itu, cara instan yang ditempuh adalah mendatangkan para pemain bintang yang bisa langsung ditempatkan di titik-titik penting dalam skema idaman.
Di masa kepelatihannya di Old Trafford yang baru seumur jagung, Ten Hag sudah mendatangkan Tyrell Malacia, Christian Eriksen, dan Lisandro Martinez. Ia tengah mengincar Frenkie De Jong, mantan anak didiknya di Ajax.
Seperti De Jong, Arnautovic juga pernah bekerja sama dengan Ten Hag. Itu terjadi di FC Twente dengan Steve McClaren sebagai pelatih utama dan Ten Hag sebagai asisten.
Kini, Ten Hag membawa McClaren ke Old Trafford sebagai salah satu tangan kanannya. Keduanya jelas memiliki kenangan yang sama tentang Arnautovic.
Terlepas dari kedekatan yang pernah dibangun, situasi yang terjadi kali ini sungguh jauh berbeda dengan bertahun-tahun lalu. Arnautovic hari ini bukanlah Arnautovic yang dahulu.
Arnautovic memang bagus di mata Ten Hag dan McClaren. Namun, ia belum tentu menjadi solusi bagi masalah di lini serang United dengan Cristiano Ronaldo yang belum jelas nasib dan kebugarannya, berikut cedera yang menimpa Anthony Martial, dan penampilan Marcus Rashford yang belum juga kembali ke bentuk terbaik.
Kehadirannya bisa saja menjadi wujud kepanikan Ten Hag dan tim pelatih untuk segera menambal masalah di lini serang. Namun, hal tersebut hanya akan menjadi solusi jangka pendek.