Christo mengguncang dunia dengan lolos ke final tunggal putra. Sayangnya, di partai final di Gymnastic Centre, Kazan, Rusia, Christo menyerah dua game langsung dari Kunlavut Vitidsarn, 21-8, 21-11. Patut diakui, pemain Thailand itu memang paling menonjol dengan dua gelar serupa yang diraih beruntun untuk melengkapi "hat-trick" juara dunia.
Bukan hal aneh
Berasal dari keluarga bulutangkis di negara yang tidak memiliki akar tradisi dan prestasi olahraga tersebut. Bertekun dengan segala tekad dan mencurahkan segenap sumber daya untuk tetap mendekatkan diri dengan bulutangkis dari generasi ke generasi. Lantas, bersikukuh menjaga semangat kompetitif dan menceburkan diri dari kompetisi ke kompetisi, tak peduli siapa lawan mereka.
Itulah realitas keluarga Popov. Sesuatu yang sempat terlihat aneh. Namun hal yang tampak anomali itu semakin ke sini semakin terlihat normal. Bulutangkis Eropa semakin menggeliat, dengan nama Popov bersaudara yang semakin dikenal. Bila sebelumnya Eropa dikenal karena Denmark, kini Prancis, Rusia, hingga Bulgaria sudah masuk hitungan.
Selain itu, dinasti bulutangkis bukan fenomena asing. Bila Popov adalah pengecualian dalam konteks Eropa, tidak demikian Asia umumnya dan Indonesia khususnya. Indonesia merupakan salah satu negara yang tak pernah habis melahirkan para pemain bulutangkis kaliber dunia.
Beberapa keluarga pebulutangkis bisa disebut. Rudy Hartono, pemilik gelar juara tunggal putra All England terbanyak, berayahkan pemain bulutangkis yakni Zulkarnain Kurniawan alias Nio Siek In dan seluruh adiknya pun mengikuti jejaknya. Mereka adalah Utami Dewi, Eliza Laksmi Dewi, Freddy Harsono, Diana Veronica, dan Tjosi Hartanto. Begitu juga kakak Rudy, Megah Inawati dan Megah Idawati yang merupakan mantan pemain nasional.
Generasi lebih kemudian ada Mainaky bersaudara. Keluarga asal Ternate, Maluku Utara ini dikenal luas sebagai pemain jempolan pada masanya. Kini mereka dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang sudah mencetak deretan pemain kelas dunia.
Richard Leonard Mainaky, Rionny Frederik Lambertus Mainaky, Rexy Ronald Mainaky, Marleve Mario Mainaky, dan Karel Leopold Mainaky yang mewarisi darah bulutangkis dari Jantje Rudolf Mainaky.
Beberapa nama di atas bisa digarisbawahi. Rionny Mainaky, mantan pelatih timnas Jepang yang kini menangani tunggal putri Indonesia, merangkap Kabid Binpres PBSI. Lalu Richard Mainaky, walau tak terlalu gemilang sebagai pemain, tetapi mampu "melahiran" pasangan juara Olimpiade seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Sementara itu Rexy, hampir seimbang prestasinya sebagai pemain dan pelatih. Berjaya sebagai pemain tunggal putra dan kini menjadi sosok penting di barisan pelatih timnas Thailand.