Lima tahun yang lalu, Suzuki meluncurkan Ignis yang bisa ditebus mulai dari Rp140 jutaan. Penampilannya yang garang tapi tetap lucu plus kenyamanan yang cukup oke membuat saya berani berujar bahwa dia sanggup melibas Honda Brio RS. Ketika harganya kini menembus Rp200 juta dan didatangkan adiknya bernama S-Presso di harga Rp150 jutaan alias tidak jauh dari harga peluncuran Ignis. Apakah adik bisa menggantikan sang kakak?
Sama seperti Ignis, S-Presso juga datang dalam kondisi built-up dari negeri Sharukh Khan. Dijual seharga Rp155 juta (manual) dan Rp164 juta (otomatis AGS), mobil yang bukan LCGC ini sekilas lebih murah dari Brio versi LCGC (Satya) di Rp157 juta (S manual) dan Rp186 juta (E otomatis). Saingan lain saat ini adalah Daihatsu Ayla 1.2 X di Rp145 juta (manual) dan Rp156 juta (otomatis). Front grille S-Presso mirip sekali dengan milik New Ignis, ketika tampak belakang mirip Baleno yang dibuat lebih sporty dengan keberadaan rear skid plate. Secara umum, S-Presso bisa dibilang memiliki bentuk yang mirip dengan Toyota Raize dan Daihatsu Rocky yang dijual mulai dari Rp205 juta (manual) dan Rp223 juta (CVT).
Di sisi lain S-Presso juga mempunyai "tugas" untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh Karimun Wagon R (meskipun Suzuki tidak memposisikannya sebagai pengganti). Sama-sama bermesin 1000cc, selama hidupnya Wagon R selalu terjual lebih dari seribu unit per tahun dan S-Presso kini diharapkan terjual paling tidak empat ratus unit per bulan. Ekspektasi ini terasa cukup berat mengingat Wagon R yang sebelumnya punya lineup dari Rp122 juta (GA) sampai Rp155 juta (GS AGS) kini tinggal tersisa dua varian di S-Presso dengan harga yang lebih mahal.
Versi sport dari Celerio, seperti Datsun Go Cross dari Go+?
Tunggu dulu. Lower radiator cover hitamnya yang cukup tinggi itu membuat mobil yang harusnya bisa tampil imut seperti Ignis dan duo Rocky-Raize kini malah tampil seperti mobil Jeep KW yang tidak sangar juga. Dari samping, penggunaan side arch cladding abu-abu yang tinggi itu membuat mobil versi sporty dari Suzuki Celerio ini malah tampil seperti Datsun Go Cross. Keduanya kan bukan mobil yang laku-laku amat di Indonesia, malah nasib akhirnya berujung menyedihkan?
Ya, kita pernah kedatangan mobil hatchback bernama Suzuki Celerio. Dia memang didatangkan dari Thailand saat itu, tetapi juga dijual di India dan laris manis di sana. Mesinnya K10B 1000cc sama seperti Karimun Wagon R. Dengan harga yang lebih mahal dari si LCGC, tenaga mesin yang sama karena tanpa turbocharger, kapasitas penumpang yang segitu-segitu saja, dan fitur yang terbatas juga, jelas minim peminat kecuali pecinta mobil Suzuki 1000cc yang menginginkan transmisi CVT daripada AGS.
Nah, sekarang setelah terjadi sedikit modifikasi dan termasuk di antaranya adalah penggunaan aksesoris sporty sedemikian rupa, meluncurlah mobil bernama S-Presso. Ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Datsun yaitu GO+ menjadi GO Cross, bedanya GO+ adalah LCGC yang laku dan tiba-tiba dinaikkan kelasnya.
Sekilas futuristik, tetapi tetap tidak istimewa
S-Presso punya ground clearance 180 mm, lebih tinggi dari Celerio di 145 mm, setara dengan Ignis dan Ayla, serta lebih pendek dari duo Rocky-Raize di 200 mm. Bannya berdiameter 14 inci dan tidak istimewa mengingat Brio Satya juga menggunakannya di semua varian, bahkan Daihatsu Ayla pun juga menggunakannya untuk varian 1.0 X ke atas. Di sini terlihat cukup jelas bahwa penyebab S-Presso terlihat "ketinggian" adalah aksesoris sporty-nya itu. Mending benar-benar sporty, di area ban terasa ada yang kurang dengan tidak disertakannya mud guard.
Masuk ke dalam mobil, dasbor Celerio yang tergolong "waras" berubah menjadi lebih futuristik. Speedometer pindah ke bagian tengah mobil, tidak aneh karena sudah lama ditemukan pada Toyota Vios dan Yaris lama sekitar 15 tahun lalu. Digital yang langsung menampakkan angka dibandingkan analog jelas lebih mudah dilihat, tetapi warna oranyenya jelas menampilkan vibes jadul dan mengapa tidak pakai warna putih saja.
Ditambah lagi, jangankan ada tachometer digital kecil dalam bentuk progress bar seperti di MID Datsun GO, S-Presso tidak memilikinya sama sekali! Penunjuk putaran mesin ini penting untuk mengetahui kesehatan mesin, ditambah lagi juga membantu pengendara mobil manual dalam mengevaluasi gaya berkendara yang lebih ramah terhadap konsumsi bahan bakar. Semakin menyebalkannya lagi, ketika panel instrumen mobil sudah pindah ke tengah, tempat yang ditinggalkan di kanan dibiarkan tertutup. Padahal kan lumayan jika bisa dibuatkan laci terbuka untuk menaruh HP pengemudi.
Nah, speedometer, MID, dan panel hiburan touchscreen membentuk bagian tengah berbentuk bulat seperti Mini Cooper. Dia dilengkapi juga dengan tombol power window, ya bukan di pegangan pinggir pintu. Ya, fungsional juga sih karena pengemudi bisa membuka jendela kiri tanpa bantuan "kenek" dan "kenek" bisa membuka jendela kanan tanpa bantuan pengemudi. Pengatur AC masih manual dengan knob yang diputar-putar dan gagang setir tidak memiliki tombol untuk mengatur panel hiburan, cukup menyedihkan jika dibandingkan terhadap Brio Satya S dan Daihatsu Ayla 1.2 X yang berada di harga setara.
Di dua sisi pilar A tersedia alat semacam joystick untuk mengatur kaca spion. Ini lebih baik dari Datsun GO yang harus membuka jendela dan melipat serta menaikturunkan spion secara manual, tetapi merepotkan pengemudi ketika tidak memiliki "kenek" dan seketika manfaat tombol power window di tengah mobil itu menjadi nonsense. Hal ini semakin terasa menyedihkan ketika Brio Satya S dan Ayla 1.2 X sudah menyediakan kaca spion elektrik yang bisa diatur dari sisi pintu pengemudi.
Kaca belakang masih diengkol, ya kalah lagi dengan Brio Satya S dan Ayla 1.2 X. Bagi kalian yang senang meninggikan atau malah melepas headrest belakang, ada kabar buruk bahwa hal ini tidak bisa dilakukan di S-Presso ketika Brio dan Ayla bisa. Pintu belakang tidak disertai cup holder seperti Brio dan Ayla. Untungnya, paling tidak dia memiliki hand grip belakang seperti Ayla tetapi tidak pada Brio.
Fitur tanggung dengan harga yang tidak tanggung-tanggung
S-Presso sebenarnya bisa hadir dengan penilaian tidak seburuk ejekan warganet saat ini, yaitu titel sebagai bajaj, mobil "JDM" (Jaipur Domestic Market), dan mobil overpriced. Menjual mobil dengan mesin 1000cc ketika Ayla (bersama saudaranya Agya) dan Brio Satya sudah berfokus pada mesin 1200cc juga tidak salah, kenaikan harga bahan bakar tentu membuat konsumen mendambakan mobil yang seirit mungkin "minum bensin" khususnya jika hanya digunakan di dalam kota. Nah, permasalahan S-Presso terletak pada fitur tanggung dengan harga yang tidak tanggung-tanggung.
S-Presso dibekali dengan defogger kaca belakang, tetapi fog lamp yang sama-sama berfungsi di kala kabut datang tidak disertakan dan rear wiper juga tidak ada. Heater diberikan untuk menghadapi kedinginan di daerah dingin, tetapi konsumen perkotaan yang lebih sering menghadapi panas tidak diberikan door visor. Headlamp juga belum mengandalkan lampu LED alias masih halogen dan kalah dengan kedua pesaingnya.
Head unit boleh touch screen, tetapi tidak memiliki fitur untuk memutar DVD jadi sebenarnya layar besarnya tidak penting-penting amat. Mengatur volume dan siaran melalui gagang setir tentu lebih aman dibandingkan tangan kiri sibuk merogoh ke head unit. Kecuali Suzuki mau membenamkan kamera parkir juga, itu baru keren.
Pengemudi dan "kenek" saling bisa membuka jendela satu sama lain dari panel tengah mobil, tetapi penumpang masih harus mengengkol di belakang. Kaca spion bisa diatur arah pandangannya dari dalam mobil, tapi masih menggunakan tuas dan tidak tersentralisasi sehingga kurang ramah untuk solo commuters. Melipatnya pun masih manual dan tidak dapat dilakukan dari dalam mobil.
Mobil ini sudah dilengkapi dual SRS Airbag, tetapi nilai uji tabrak NCAP masih kalah satu bintang dari Agya 1.2 G yang harganya Rp3 juta lebih mahal (ingat mesinnya lebih besar). Titik lemah mobil ini adalah perlindungan duduk anak dan solusi yang bisa cukup membantu adalah pemberian fitur ISOFIX di kursi belakang. Keberadaan hand grip di belakang jadi tidak terasa maksimal tanpanya.
Terakhir kembali lagi ke aksesoris sporty itu. Penyebab mobil ini dipandang jelek ya karena keberadaannya, khususnya tingginya itu dan warnanya hitam, kecuali kita membeli varian warna granite gray atau white menjadi two-tone yang pas. Arch cladding tidak perlu setinggi itu dan tidak perlu aksen krom, lower radiator cover juga tidak perlu setinggi itu dan mungkin lebih banyak orang suka jika cukup diberikan bumper depan sewarna bodi plus front skid plate beraksen krom. Lihat saja Rocky-Raize yang cukup banyak penggemarnya itu, sesuaikan sedikit lagi penampilannya bisa jadi S-Presso siap mengancam peminat yang sebenarnya tidak butuh tenaga mesin sebesar itu!
Untuk semua fitur tanggung ini (catat bahwa bukan minim fitur tetapi tanggung), harga S-Presso itu tidak tanggung-tanggung tingginya. Memang dia bukan LCGC dan bukan dirakit di Indonesia, tetapi sulit membangun kebanggaan atas mobil built-up dari India, segmentasi harganya membuat dia pasti disandingkan dengan LCGC brand lain, dan mesinnya yang lebih kecil tentu diekspektasikan bisa menghemat biaya. Apalagi Suzuki kalah pamor dengan Toyota, Daihatsu, dan Honda di segmen ritel, tentu dia diharapkan harganya lebih terjangkau.
Jika ke depannya S-Presso bisa bertahan dan dilokalisasi, Suzuki harus bersiap memodifikasinya agar lebih sesuai terhadap kebutuhan dan selera masyarakat Indonesia. Pangkas fitur yang tidak diperlukan dan tidak disukai, berikan fitur lain yang lebih penting dan disukai, serta buat harganya menjadi kompetitif. Lebih baik lagi, jika harganya bisa turun sekitar Rp20-25 juta agar kompetitif melawan Ayla 1.0 X. Jangan sampai S-Presso menjadi Celerio berikutnya yang semakin membuat sejarah kelam untuk Suzuki Indonesia, menjual produk yang tidak laku dan tidak bertahan lama!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI