Ketika memberikan penilaian jelek, rasa takut selalu melanda pemberinya. Paling jinak, masyarakat yang belum pernah mencoba, berprasangka buruk, dan memiliki pemikiran nyinyir akan langsung menghakimi beramai-ramai sampai membuatnya kapok dan trauma.Â
Wahai kalian yang tidak tahu apa-apa, tidak ada orang yang berani berucap tanpa fakta. Jangan sampai, penghakiman kalian yang justru berujung ke jeruji besi terkait pelanggaran UU ITE.
Belum lagi, kalau urusannya terkait toko atau transportasi online, konsumen merasa khawatir dengan alamat dan nomor ponsel mereka yang suatu saat bisa jadi bumerang berupa teror atau hal-hal lain yang lebih parah dan tidak diinginkan, bahkan bisa berujung nyawa melayang.Â
Sekali lagi, jika tidak ingin mendapat nilai jelek, berusahalah dengan keras untuk memenuhi standar kelayakan, bukan memaksa konsumen memberi nilai bagus!
Peran lembaga perlindungan konsumen
Sayangnya, gaung lembaga perlindungan konsumen di Indonesia masih kurang. Saran saya, pengurus terkait haruslah menerapkan strategi jemput bola untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi di masyarakat, menyosialisasikan diri secara lebih intensif supaya dikenal, membuka jalur pelaporan yang memungkinkan pelapor menggunakan identitas anonim selama ada bukti kuat, dan kerja sama dengan kepolisian untuk melindungi keamanan konsumen.Â
Jangan hanya menunggu laporan karena banyak konsumen takut dan tidak tahu mau bergerak ke mana, khususnya ketika berhadapan dengan brand besar.
 Jangan takut untuk berkata benar
Menutup opini ini, saya hanya ingin menyampaikan pendapat salah seorang pengajar yang bisa dijadikan sebagai referensi dan refleksi.
"Jangan takut untuk berkata benar tentang sesuatu, karena taruhannya adalah hajat hidup orang banyak dan pertanggungjawaban kita ujungnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berikan nilai dan ulasan yang pantas sehingga mereka puas terhadap apa yang layak diapresiasi dan berinstropeksi terhadap apa yang harus diperbaiki. Jika di dunia ini saya bisa menggunakan sistem nilai yang lebih spesifik sampai ke koma-komanya, saya pastikan semuanya punya nilai berbeda dari yang terendah sampai yang tertinggi, tak segan memberi 1 sampai 100. Dari nilai yang jelek sampai yang sempurna, semuanya itu unik dan mengapa harus berbeda bisa saya pertanggungjawabkan secara jelas kepada Tuhan."
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H