Euforia masyarakat yang telah terbina harus tetap dijaga untk sekedar melenyap-sekejap penderitaan selama ini. Pengambil keputusan telah ikrarkan untuk coba mnggeliatkan kesemarakkan tanpa perlu lagi berpaling dari sisipan isu-isu pemecah perhatian dari berbagai kepentingan.
Hari Raya Idul Fitri 1443 H atau lebaran bagi umat muslim masyarakat Indonesia akan dapat memakmur-suburkan negeri dengan imbasan gelontoran uang sebagai penggerak ekonomi ke seluruh pelosok negeri, yang selama ini tertahan di kantong-pundi masyarakat pusat kota.
Mudik ke kampung halaman dan ang-pau memang sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia yang justru menjadi penyeimbang-ekonomi negeri sebagai momentum yang tidak dilewatkan begitu saja.Â
Bisa dibayangkan gerak aktivitas masyarakat dari kota ke daerah-daerah kampung halaman, dengan uang yang masih tersimpan akan tertebar (sebagai ang-pau) kepada masyarakat daerah. Insya Allah, negeri kita akan bangkit dari keterpurukkan ekonomi disbanding negara lain yang masih terlelah atas terkuras kantong-ekonomi mereka karena masih menghadapi pandemik.
Mudik dan ang-pau juga merupakan sarana silaturahim masyarakat antara kota dan daerah sebagai pemacu gerak ekonomi yang akan menyama-ratakan power buying seluruh pelosok negeri. Inilah merupakan senjata utama negeri kita yang terbedakan dengan negara lainnya. Karena dengan adanya mudik ke kampung halaman sebagai obat rindu masyarakat yang akan meningkatkan imunitas tubuh dan genggaman uang (ang-pau) yang terbawa masyarakat kota bagi saudaranya di kampung halaman sebagai pengerak roda-ekonomi.Â
Inilah sebagai senjata utama bangsa Indonesia yang menjadi karakteristik Competitive Advantage yang tidak dimiliki negara lain dan tidak bisa dicipta-belikan begitu saja.
Ulasan Sebagai Penutup
Demikian artikel sederhana penulis sebagai refleksi yang mencoba mencermati kebijakan pemimpin negeri kita yang mungkin bisa menjadi suatu pembelajaran, yang mungkin hanya sebagai salah satu dari berbagai langkah yang ada, sebagai ciri khas kepemimpinan stratejik di Indonesia dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam kondisi pandemi dan kiat untuk mengakhirinya. Karena sesuai dengan literatur yang ada bahwa seorang pemimpin perlu menyetimbangkan dalam men-tranformasi kebijakan (Transformation leadership) dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan (Transactional leadership) untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Tentu saja sesuai dengan teori agensi (Agent-Theory) diperlukan kredibilitas dan kapabilitas seorang pemimpin yang ber-orientasi kepada kepentingan masyarakat sebagai stakeholder utama untuk memperoleh kepercayaan (Trusty). Selain itu, diperlukan keterlibatan pemimpin secara bersama masyarakat atau pihak terkait (Partisipative Leadership) sehingga kebijakan yang ditetapkan dapat dilaksanakan secara sukses dan lancar.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H