"Menghina Tuhan tidak perlu dengan umpatan dan membakar kitabNya. Khawatir kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan"
Sontak perkataan itu seperti menamparku dan aku pun malu sekali rasanya karena Aku telah menghina Tuhanku dan kekhawatiranku belakangan ini lebih besar daripada ucapan syukurku. Dengan adanya kekhawatiran itu membuatku tidak menikmati apa yang ada di depanku, justru aku malah takut akan hari esok yang belum pasti seperti apa gambarannya dan melupakan kenikmatan yang ada di depan mata.
Dengan membawa rasa bersalahku, akupun mencoba merayu hatiNya untuk memohon ampun karena aku telah menghinaNya lewat rasa khawatirku ini.
Hingga akhirnya pertanyaan - pertanyaan itu bisa terjawab tanpa meninggalkan rasa penasaran dan khawatir yang berkelanjutan:
- Hari esok memang misteri, bisa itu berupa kesenangan bisa itu kesedihan bagiku, bahkan secara bersamaan kesenangan dan kesedihan itu bisa hadir dalam satu hari. Namun, bukankah apa yang kuperbuat hari ini berpengaruh besar pada hari esok?
- Semua orang kelak akan meninggalkan dunia ini, maka dari itu aku harus lebih menikmati setiap momen yang ada bersama mereka yang kukasihi, supaya kelak tak ada muncul rasa penasaran
- Aku harus belajar pada semut, yang mana mereka bekerja tanpa harus dipimpin, dan mereka mengumpulkan makanan sebelum musim dingin atau kelaparan tiba
- Kurasa kebahagiaan itu adalah ketika aku bisa mecukupi diriku dengan apa yang ada padaku saat ini, tidak selalu dengan uang yang banyak juga tidak perlu yang sempurna itu datang baru aku mengucap syukur, namun cukupkanlah sampai yang sempurna itu datang padaku.
***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H