Bunda...
jangan kau peringati keberadaan kami setiap tahun
jangan kau megah2kan kemeriahan itu
jangan kau dendangkan lagu tabuhkan genderang..
berpesta pora..
Bunda...
jangan kau dirikan tenda..
hadirkan pejabat..
dari desa hingga kota..
beragam makanan dan minuman kau hidangkan
tarian dan nyanyian kau suguhkan
sambil berteriak lantang selamat hari anak nasional
semua itu sungguh tak perlu bunda..
bila...
disini kami masih bertelanjang dada..
bertelanjang kaki
mengais sisa makanan
menangis minta dikasihani
kami lapar..
kami haus..
luka di kaki kini bernanah..
legam hitam muka kami..
kami di cibir.. kami di usir..
berapa banyak kami yang lahir sia-sia
hanya jadi pengemis dan gelandangan
bunda..
imunisasi bagi kami yang baru lahir itu cuma angan
tubuh kecilku hanya tidur dalam gerobak kayu
yang didalamnya ada bundaku, kakakku
dan ayahku yang berpeluh keringat..
atau mengigil dingin..tanpa alas kaki
tidur diluar..hanya beralas koran
bunda..
buku usang kertas kumal tulisan buram
jadi bahan bacaan kakakku..a...b...c ..d ..ia mengeja
bersekolah gratis itu mimpi buat kami
walalu nyata adanya..
bunda... kami tak tahu hari ulang tahun kami
dan hampir pasti kami tidak pernah peduli
tanggal berapa peringatan hari anak nasional
apa gunanya hari itu buat kami bunda
bila disini..kami hidup dan mati sia-sia...
by.bunda alif
230711
(dicopas dari fb sendiri... ^_ * )
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI