Mohon tunggu...
Budi Hermana
Budi Hermana Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Keluarga/Kampus/Ekonomi ... kadang sepakbola

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Gudang Uang Tebar Jerat Utang

20 Januari 2012   16:05 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:38 1002
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
13270956801584641627

[caption id="attachment_165131" align="aligncenter" width="640" caption="ilustrasi/admin(shutterstock.com)"][/caption]

Bank Umum makin perkasa dan tumbuh semakin kuat pada tahun 2011. Uang sekitar 3000-an Triliun pun keluar masuk bank. Di tengah sorotan atau kasus – mulai kasus inefisiensi, bunga kredit tinggi, oknum debt collector, dan penggelapan dana nasabah prima - Bank Umum tetap mendominasi sistem keuangan nasional. Itulah gambaran umum dari Statistik Perbankan Indonesia. Apa saja yang menarik dan menggelitik dari statistik tersebut?

Pada 13 Januari BI sudah mengunggah Statistik Perbankan Indonesia (SPI) edisi November 2011 ke website BI. Kita bisa memaklumi jika publikasi SPI Volume 9 Nomor 12 ini ada jeda waktunya sekitar dua bulan. Membuat tabel rekapitulasi atau penyajian data yang komprehensif tidaklah mudah. Apalagi SPI ini menggunakan sumber data laporan keuangan bank yang harus disetor ke BI setiap bulan.

Semua indikator kegiatan usaha perbankan mengalami kenaikan jika dibandingkan SPI edisi November 2011, kecuali jumlah bank yang sejak Juli 2011 masih 122 bank umum.  Kini total aset bank umum sudah mencapai Rp 3471,5 Triliun, atau meningkat 13,85% dari Januari 2011. Dari perspektif bank, kenaikan tersebut dipandang positif secara kuantitatif.

Bank disebut perantara keuangan yang menghimpun dana (Source of fund) dan menyalurkan dana (use of fund). Bak mak comblang saja, Bank memerantarai pihak yang kelebihan dana (surplus unit) dengan pihak yang membutuhkan dana (defisit unit). Sebuah definisi atau konsep sederhana tentang bank. Namun, ketika ribuan triliun lalu-lalang di bank, sistem keuangan nasional bisa terganggu jika perbankan nasional tidak tangguh.

Ketangguhan bank bisa diukur dengan seberapa kuat menahan gejolak atau krisis finansial global. Jika melihat berbagai indikator pada SPI, sejauh ini perbankan nasional baik-baik saja di tengah krisis keuangan global.  Peningkatan sumber dan penggunaan dana pun menunjukkan masyarakat masih percaya dengan bank.

Bank memang bisa hidup di atas kepercayaan masyarakat. Namun pertanyaannya adalah apakah kehidupan masyarakat menjadi semakin baik karena bank? Jawabanya tidak hanya sekedar angka-angka yang memang mencengangkan. Mencermati SPI tersebut, ada beberapa catatan yang menarik mengenai fungsi dan peran perbankan nasional.

Pertama, simpanan valuta asing meningkat. Sumber dana bank mencapai Rp 2919 Trilun di Bank Umum dan Rp 43 Triliun di BPR. Sumber dana terbesar pada Bank Umum adalah Dana Pihak Ketiga (DPK) - yaitu berupa tabungan, deposito, dan giro – sebesar Rp 2259 Triliun untuk DPK Rupiah dan Rp 385 Triliun DPK valuta asing. Jenis simpanan terbesar adalah Deposito yaitu Rp 1045 Triliun untuk rupiah dan Rp 155 Triliun. Simpan valas terus meningkat dalam 4 bulan terakhir dengan laju yang lebih besar dari peningkatan DPK Rupiah, yakni 10,03% berbanding 6,99%. Bisa jadi kenaikan DPK valas ini imbas dari kebijakan moneter dari BI yang mengharuskan semua transaksi ekspor impor menggunakan rekening bank di Indonesia. "Cadangan Devisa Tergerus, BI Siapkan Tiga Jurus" kelihatannya mulai menunjukkan keampuhannya.

Kedua, Penempatan dana yang “cari aman”, namun bisa membuat debitur “tidak nyaman”. Jumlah dana yang disalurkan sebanyak Rp 2920 Triliun dari Bank Umum dan Rp 44 Triliun dari BPR. Sebagian besar penyaluran dana bank umum adalah Kredit sebesar Rp 2147 Triliun, atau meningkat 40 Triliun dibandingkan bulan Oktober. Peningkatan kredit ini menjadi sinyal positif dalam rangka mendorong sektor riil. BRI menjadi bank terdepan yang memberikan kredit, yaitu sebesar Rp 280.672 Triliun atau 13,07% dari total kredit yang disalurkan bank umum.

Pos penyaluran dana terbesar kedua adalah penempatan di BI – yaitu Giro, SBI, Call Money, dll- sebesar Rp 652 Triliun. Ada penuruan sekitar 6 Triliun dibanding posisi Oktober. Penempatan dana di BI bisa menjadi idle money yang bisa berdampak pada penerapan biaya dana (cost of fund). Memang penempatan di BI menjadi pos yang aman bagi bank, tanpa harus takut penempatan dananya hilang. Toh BI kayaknya jauh dari “ngemplang”. Karena tingkat keuntungan dari penempatan di BI tersebut sangat kecil (konsekuensi dari risk-free) maka harus mencari keuntungan dari jenis penempatan dana lainnya. Jadi bisa saja bank akhirnya meningkatkan bunga kredit (mengingat penghasilan dari penempatan di BI relatif kecil) untuk mengejar target keuntungan.

Ketiga, Bunga giro dan tabungan lebih rendah dari inflasi. Faktor bunga bisa menjadi pelumas mumpuni dalam menggerakkan ekonomi nasional. Walaupun dana masyarakat meningkat, namun sejatinya nilai riilnya malah menurun, atau dengan kata lain, kreditur bank semakin "miskin" karena nilai kekayaannya malah berkurang di bank. Kondisi ini bisa dilihat dari rata-rata bunga simpanan- khususnya bunga giro dan tabungan- yang di bawah inflasi. Artinya, nilai atau daya beli dari simpanan tersebut malah makin turun.

Suku bunga rata-rata per November 2012 adalah 2,26% untuk Giro, 6,57% Deposito 1 bulan, 7,14% Deposito 3 bulan, 7,18% Deposito 6 bulan, 6,94% Deposito 12 bulan, dan 2,32% untuk tabungan. Tingkat suku bunga tersebut adalah untuk DPK Rupiah. Fenomena bunga deposito yang tinggi pun malah dipertanyakan karena disinyalir hanya memburu deposan kaya yang mempunyai dana luar biasa. Bunga deposito tinggi ini - malah bunganya di atas tingkat bunga yang dijamin LPS -  bisa membuat biaya dana bank makin tinggi. Ujung-ujungnya bunga kredit pun tak turun-turun.

Keempat, Ketidakefisienan bank membuat biaya dana tinggi. Ketidakefisien bank bisa menyebabkan bunga kredit tinggi. Jadi bunga simpanan yang rendah ternyata tidak menjamin penurunan bunga kredit. Bank seolah menekan serendah-rendahnya harga beli dana dari maysrakat – yang menyimpan di bank- lalu memasang tarif tinggi pada kredit yang disalurkan ke masyarakat juga. Perbedaan harga beli dan harga jual tersebut sederhanya disebut dengan interest spread.

Interest spread yang lebar- bahkan tergolong tinggi di kawasan ASEAN- menunjukkan masih adanya biaya-biaya yang dibebankan ke debitur yang menanggung bunga kredit tinggi.  Istilahnya, bank menari di atas jeritan debitur. Bank pun mengeruk rente ekonomi dengan mengeksploitasi kemampuan membayar angsuran dari para debitur. Wajar jika BI menggunakan berbagai jurus, salah satu yang terbaru adalah "BI Akan Larang Bank Berikan Hadiah" (Kompas.com, 20/01/2012).

Memang dalam lima bulan terakhir bunga kredit cenderung turun untuk semua jenis kredit berdasarkan penggunaannya. Tingkat bunga rata-rata kredit di bank umum adalah 12% untuk kredit modal kerja, 11,59% untuk kredit investasi, dan 13,37% untuk kredit konsumsi. Bisa jadi, himbaun BI atau harapan pelaku di sektor riil sudah masuk ke telinga para bankir, walau penurunan bunga kreditnya belum signifikan. Berita Kompas,com (18/01/2012) bertajuk: "Perbankan Didesak Turunkan Bunga Kredit" menyebutkan para pengusaha sampai harus bertemu dengan Perbanas minta "dikasihani" agar bunga kredit segera turun.

Kelima, Bunga kredit BPR “gila-gilaan”. Bunga kredit yang disalurkan BPR tercatat sebasar 32,22% untuk kredit modal kerja, 28,19% untuk kredit investasi, dan 27,09% untuk kredit konsumsi. Bunga setinggi itu bisa menyulitkan para pengusaha yang bergerak di sektor riil. Jika usahanya dibiayai dari kredit BPR maka tingkat keuntungannya harus mencapai 40% agar masih bisa membayar bunga, itupun dengan margin keuntungan bersih yang relatif kecil. Dengan bunga kredit setinggi itu, potensi kredit macet di BPR pun relatif tinggi dibandingkan bank umum, yang dapat dilihat dari nilai Non Performing Loan (NPL).

Rata-rata NPL BPR pun lebih tinggi dibandingkan Bank Umum yaitu 5,91% berbanding 2,55% pada November 2011. Nilai NPL nya mencapai Rp 2,4 Triliun. Suku bunga kredit tinggi bisa disebabkan oleh suku bunga simpanan yang relatif tinggi yaitu  5,3% untuk tabungan dan 9,99% untuk deposito. Namun bunga kredit tinggi rasanya bukan karena bunga simpanan yang tinggi saja. Spread lebih dari 20% tersebut tergolong “gila-gilaan” yang bisa mencekik para debitur BPR.

Keenam, Jakarta masih jadi “gudang uang”. Total DPK sebesar Rp 2.644.742 Milyar yang terdiri dari Rp 2.259.450 Milyar DPK Rupiah dan Rp 385.292 Milyar DPK Valas. Komposisi DPK berdasarkan lokasi penghimpunan menempatkan Jakarta sebagai “gudang uang”. Berikut urutan lima besar nilai dan porsi DPK dilihat dari lokasi penghimpunannya: (1) Jakarta sebesar Rp 1.321 Triliun atau 49,95%; (2) Jawa Timur Rp 241.2 Triliun atau 9,12%; (3) Jawa Barat Rp 210.6 Triliun atau 7,97%; (4) Sumatera Utara Rp 124.3 Triliun atau 4,70% ; dan (5) Jawa Tengah Rp 122.1 Triliun atau 04,62%. Uang memang terkonsentrasi di Pulau Jawa, dan "gudang uang"-nya ada di ibukota.

Semoga gudang uang itu tidak sekedar menebar jerat utang saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun