Turbulensi pertama menimpa ketika badai krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998. Imbasnya, kantor tempat bekerja tiarap. Saya di-PHK akibat keadaan tidak menentu.
Tabungan menipis memaksa saya membuka usaha kuliner sederhana. Satu atau satu setengah tahun berjalan, usaha gulung tikar. Penyebanya, pengelolaan oleh orang lain tidak berjalan lancar.
Sebelumnya, saya mendelegasikan usaha itu untuk ke Bali, membantu seorang sahabat memindahkan restoran dari Sanur ke daerah Kuta.
Setelah itu saya menghadapi tahun-tahun sulit.
Untung saya diterima bekerja di satu kafe di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Bergabung dengan perusahaan tersebut membuat saya mantap mendalami bisnis kuliner.
Selanjutnya, saya belajar menjadi entrepreneur. Berkongsi. Membeli usaha restoran di jalan HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan.
Tidak bertahan lama. Kawan-kawan tergoda dan mengubah konsep usaha dari restoran menjadi klub (bar dan nightclub). Perubahan konsep yang ceroboh menghancurkan segalanya.
Sempat bekerja sebentar di sebuah agency, tetapi lebih lama bekerja serabutan. Terakhir menjalankan usaha sendiri di bidang pengadaan barang dan jasa untuk instansi pemerintah.
Ada saat berhasil dan menguntungkan, ada saat rugi ditipu teman. Pada waktu lain merugi akibat komplain pemilik pekerjaan (bohir). Terakhir, usaha pribadi ini terpaksa berhenti total. Saya tidak mampu melanjutkan akibat terkena serangan penyakit kronis.
Selama perjalanan hidup di atas ada banyak cerita keberhasilan, yang sebagian telah saya tuliskan di Kompasiana. Sisa cerita saya simpan sendiri.
Perjalanan hidup saya tidak mulus. Berkali-kali terhempas jatuh ke tanah. Badan dan kepala terantuk lebih dulu, bukan kaki yang menyentuh bumi.