Perkiraan saya, Bu Santi kekurangan modal kerja, namun wanita berkulit gelap karena kerap terbakar matahari itu tidak mengeluhkannya.
"Belum dapat bansos?"
"Ah boro-boro."
Kini, kondisi ruang berukuran 3x4 meter persegi juga lebih penuh, dibanding sebelumnya. Meja display makanan, kursi plastik, dan kompor sekarang ditambah dengan kulkas, dispenser galon air mineral, meja makan besar, dan kasur lipat.Â
Lebih sesak dibanding pada bulan November lalu, saat saya pertama kali berkunjung.
Rupa-rupanya Bu Santi tidak lagi mengontrak rumah petak. Tempat jualan berfungsi juga sebagai tempat tidur Bu Santi dan putranya pada waktu malam. Mengenai kamar mandi dan lain-lain, saya tidak sampai hati untuk menanyakannya.
Barangkali terpengaruh emosi yang menyangkut rasa iba, saya berkesimpulan, bahwa usaha Bu Santi kekurangan modal, tergerus karena penurunan omzet dan bertumbuhnya piutang-piutang kepada pelanggan. Mudah-mudahan bisa ditagih dalam waktu dekat.
Secara langsung maupun tidak langsung, ia termasuk pengusaha kecil yang terkena dampak pandemi. Kekurangan modal adalah persoalan utama yang bersifat klasik melingkupi sektor usaha mikro semacam itu.
Bu Santi tidak berharap kepada Bansos dan semacamnya, tetapi ia memercayai adanya sejuta kebaikan untuk pedagang kecil. Ia pasrah kepada ketentuan-NYA.
Terlihat seorang pria muda berpeci menyerahkan kepada Aldino, putra tunggal Bu Santi, sebuah amplop putih. Isinya beberapa lembar uang.