"Terus, kalau nanti Kakang sudah ngerasain mimpi basah, keluar sperma, Rama pesan, jangan mengeluarkannya dengan sengaja, sampai nanti Kakang menikah," ujarku perlahan tapi tegas.
"Ada yang mau ditanyakan gak Kang?" tanyaku. Narendra hanya menggeleng. Ekspresinya datar, sulit ditangkap bagaimana perasaannya.
"Oh iya Kang," kataku lebih santai dan melunak, "mungkin suatu saat, Kakang punya rasa tertentu sama temen perempuan, suka ngelihatnya, pengennya deket, kangen pengen ketemu, tapi kadang malu, Kakang gak perlu bingung atau khawatir, itu perasaan yang wajar dan normal saja."
"Kalau ada perasaan yang aneh, membingungkan, ataupun bikin khawatir, Kakang boleh kok nanya-nanya sama Rama atau Ibu, gak perlu malu, Insya Allah dijawab tuntas, kalau pun Ibu sama Rama belum bisa jawab, kita cari jawabannya sama-sama, bisa tanya ke pak Mubaligh atau yang lainnya," kataku.
"Kakang juga sudah boleh lho jadi imam sholat di rumah, jadi kalau Rama lagi gak ada, tetap bisa sholat berjamaah, Kakang imamnya," kataku sambil menepuk bahunya. "Bacaan sholatnya jangan sampe ada yang lupa-lupa, dan hafalan suratnya diperbanyak," tambahku lagi.
Dia diam mendengarkan ceramahku. Perlahan kucium ubun-ubunnya sambil ku usap kepalanya, "Ibu sama Rama sayang, dan bangga sekali sama Kakang." Dia seperti salah tingkah, tapi tak menolak. "Ibu sama Rama selalu ada buat Kakang sama Rayi, jadi kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati, ada rasa-rasa yang belum pernah Kakang rasa sebelumnya, atau apapun, jangan ragu untuk bilang sama Ibu atau Rama," kataku. "Oke, Kang?" tanyaku menegaskan. Dia hanya mengangguk pelan.
"Ada yang mau ditanyakan atau disampaikan sama Rama?" tanyaku. Dia diam saja, gesturnya tak begitu nyaman. "Kalau gak ada, sekarang kita pulang, rotinya mau dihabiskan atau dibungkus?" tanyaku lagi. "Dibungkus aja," jawabnya, ekspresinya sudah mulai kembali normal. Aku meminta waiter membungkus roti bakarnya, lalu kami pun pulang.
***
Kejadian di atas merupakan pengalaman pertama kalinya kami pergi dan ngobrol hanya berdua (maksudnya ngobrol secara khusus/we time). Terasa ada jarak ketika obrolan menyentuh rasa dan hal-hal pribadi. "Ah, ternyata aku belum bisa hadir sebagai sosok ayah yang dekat dengannya," gumam hatiku.
Dalam keseharian kami terbilang cukup dekat, secara fisik aku relatif selalu hadir dalam aktivitas pertumbuhannya. Namun ternyata, dalam urusan rasa, terasa berjarak, ada dinding yang menyekat. Aku merasa belum bisa menjadi bagian dari dirinya, belum bisa memberi nyaman untuknya.
"Maafkan Rama ya Kang, Rama akan selalu berusaha untuk bisa jadi ayah yang membimbing sekaligus teman yang akrab bagi Kakang."