Anik dan 8 tetangganya ikut pelatihan ketrampilan menjahit. Seusai pelatihan tersebut berdirilah Rumah Kreatif Kembang Melati yang memproduksi keset, handycraft, dompet, bros, tas, dan keset karakter. Keset motif buatan Rumah Kreatif Kembang Melati terpilih sebagai produk terbaik di ajang UKM Kreatif Award Surabaya tahun 2012 (hlm.40). Di Dupak ada beberapa ”pahlawan pemberdayaan mantan PSK dan mantan mucikari” mereka berhasil mengubah kawasan bekas lokalisasi menjadi kawasan dengan komunitas mandiri. Selama kita berusaha, Tuhan akan membukakan jalan, pungkas Anik
(hlm.42).
Merawat Tradisi Indonesia
Kisah pemberdayaan dalam buku pun mengangkat kisah kreativitas warisan budaya Indonesia dalam wujud kain batik. Di tangan Dian Novalia. Penjualan batik menjadi tak selusuh warnanya. Ia memiliki ”darah batik” dari leluhurnya. Di tangan generasi penerus sepertinya, kain batik dibuat semenarik mungkin tanpa meninggalkan nilai budaya yang dikandungnya. Lewat FB ”Pekauman Jaya Batik” batik hasil karya Dian dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia.
Dari tetangganya ia dikenalkan pada Daya Tumbuh Komunitas BTPN. Kebetulan Dian juga nasabah BTPN Syariah. Dari program tersebut ia dapat mengikuti pelatihan desain batik dan diversifikasi bahan pewarna batik. Program Daya Tumbuh BTPN menyelenggarakan berbagai ajang seperti Selendang Mayang (hlm. 50) semakin melambungkan batik Cirebon ke kancah internasional.
Berdikari dan Berdayakan Sesama
Keresahan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar membuat Bodro Irawan membuka kursus komputer gratis. Kursus komputer tersebut ia buka, karena ia ingin semua warga sekitar lingkungannya melek penggunaan komputer. Pemberdayaan tersebut ia lakukan, karena dulu ia merasakan pernah ditipu kala mau belajar komputer. Kedermawanan yang dilakukan pun sepenuhnya oleh istri. Modal untuk membuka kursus komputer gratis diperoleh dari keuntungan berwirausaha jasa fotokopi. Usaha tersebut diawali keputusannya yang tepat untuk memilih kota Kajen, karena di sana menjadi pusat keramaian baru (hlm.59).
Untuk mengembangkan usaha, Wawan memilih bermitra dengan BTPN. Program Daya yang diikutinya bertujuan untuk membangun dan mengembangkan usaha bagi mass market di Indonesia. Sosok Bodro betul-betul menyejukkan. Ia mengungkapkan bahwa selama masih hidup, masih mampu. Ia akan terus menjalankan kursus komputer gratis (hlm.65).
Kedukaan kadang tak mampu menghilangkan harapan manusia. Kehilangan suami terkasih tak mematikan harapan hidup Bu Siti Rochanah. Kedukaan tersebut diolahnya hingga semakin membulatkan tekad berwirausaha dan mandiri. Berwirausaha kuliner adalah pilihannya. Setelah mencoba berbagai usaha kue kering dan roti, ia berinovasi dengan membuat penganan crispy berbahan baku wader dan udang diberi merek dagang ”Iwak Nyuzz”.
”Iwak Nyuzz” semakin melaju sebagai produk penganan crispy populer Semarang menyusul jejak lumpia, bandeng presto, dan wingko babat. Keberhasilan Bu Siti tak lepas dari peranan program Daya dari BTPN. Dengan mengikuti program tersebut, ia mengikuti pelatihan wirausaha dan komunitas purnabakti. Ia menjadi nasabah UNIK (Ulet, Negosiatif, Inisiatif, dan Kreatif ). 5 produk unggulan dari usaha Bu Siti adalah Ikan Wader Rawa Rasa Original, Udang Goreng Bumbu Balado, Bumbu Nasi Goreng Udang Tradisional, Sambal Terasi Udang Iwak Nyuzz, dan Ikan Wader Crispy Iwak Nyuzz (hlm.70).
Sampah jadi masalah klasik yang dihadapi manusia. Tiap kota memiliki permasalahan dengan sampah dan lokasi tempat pembuangan akhir. Di tangan Slamet Akhmad Muhidin (Ayo) sampah menjadi berharga. Ia menjadikan sampah bisa jadi berkah. Sejak 2012 ia mengelola Bank SBS (Sampah Bintang Sembilan). Slogan Pak Ayo untuk mengajak warga peduli sampah: pilihlah sampah sejak di rumah, jadikan sampah menjadi berkah, jangan tunggu jadi musibah.