Kiper blunder dan sulitnya menjadi kiper
Fenomena kiper hebat seperti Karius dan Alisson yang melakukan blunder lalu menerima perundungan bukan hal baru. Kiper-kiper hebat dunia pun lazimnya melakukan kesalahan fatal dalam perjalanan karier mereka.Â
Mengapa blunder oleh kiper mudah memicu perundungan dan ejekan? Ada dua faktor. Pertama, kiper selalu disorot sebagai pintu terakhir pertahanan sebuah tim yang kerap dinilai hanya dari beberapa kali aksi saja. Sekali saja kiper salah, ia dinilai bermain buruk. Padahal, pemain-pemain di posisi bek, gelandang, dan penyerang melakukan lebih banyak kesalahan!
Kedua, kiper kerap dianggap sebagai posisi yang paling santai dalam pertandingan bola. Kiper memang jarang menyentuh bola. Akan tetapi, bukan berati menjadi kiper itu mudah. Saya sebagai mantan kiper futsal amatiran mengalami betapa susahnya jadi kiper.
Menurut saya, ada lima tantangan yang harus dihadapi tiap kiper:
Pertama, kiper dituntut pandai membaca pola serangan lawan.
Kiper memiliki pandangan luas karena ia melihat pemain-pemain lain di depannya. Serangan lawan sejak awal harus bisa dibaca kiper. Kiperlah yang mengarahkan pemain lain untuk memutus alur serangan lawan.
Kedua, kiper dituntut refleks sempurna meski jarang dapat bola
Hal ini yang mungkin kurang disadari para penonton yang bukan pemain bola. Bayangkan, kiper selalu dituntut punya refleks sempurna walau dia jarang mendapat bola. Otot-otot tubuh cenderung kaku ketika jarang dapat bola. Apalagi jika bermain di udara dingin.
Ketiga, kiper harus siap cedera (parah)
Posisi kiper adalah posisi paling rawan karena ia rentan cedera (parah). Sering kiper cedera ketika menghalau bola dan bertabrakan dengan pemain lawan atau kawan setim.Â