Di Ramadan 1441 Hijriah merupakan bulan Ramadan terakhir buat Ibu. Di akhir bulan syawal ibu berpulang selama-lamanya. Tanda-tanda beliau akan pergi selamanya sudah terlihat bulan Ramadan.
***
Setiap hari beliau menelpon, untuk dibelikan jajanan untuk berbuka puasa. Mengajak ngobrol berlama-lama saat saya berada di rumah beliau. Saya tidak tinggal serumah lagi sejak berkeluarga.Â
Umur kita memang tidak ada yang tahu. Saat bertemu, di Ramadan terakhir beliau suka bercerita tentang masa-masa kecil saya. Susahnya melahirkan saya, sampai sehari menjelang malam tidak bisa lahir juga.Â
Lahir dalam keadaan terlilit tali pusat penyebabnya sehingga susah lahir normal. Kampung saya masih sunyi waktu itu. Tidak ada puskesmas seperti sekarang. Untuk pergi ke rumah sakit harus ditempuh dengan naik kapal sungai yang menyeberangi sungai mahakam.
Kata Ibu, bayi yang lahir dengan tali pusat yang melilit seluruh badannya adalah anak yang pintar dan cerdas nanti ketika dewasa. Benar atau tidaknya, atau kebetulan apa yang ibu katakan ada kebenarannya.Â
***
Sepuluh hari menjelang kepergian beliau, Ibu terserang stroke pita suara hingga tidak bisa berbicara. Makin hari beliau tambah drop. Hingga dilarikan ke rumah sakit.Â
Pada tanggal 25 bulan Syawal pergi untuk selamanya, dengan bibir tersenyum dan kening yang berkeringat. Satu-satunya saya yang menyaksikan kepergian beliau diantara sanak keluarga.Â
Dokter yang menangani beliau juga bingung. Seluruh anggota badan beliau masih hangat tidak seperti orang yang sudah meninggal. Orang yang meninggal biasa badannya dingin seperti es. Tapi beliau tidak.Â
Dokterpun mengatakan selama 15 tahun menjadi dokter umum di rumah sakit baru ini menyaksikan orang yang sudah meninggal badannya tetap hangat seperti orang tidur. Kata beliau jantungnya sudah berhenti bekerja, dan beliau menyatakan ibu sudah meninggal dunia.