Alih-alih menggunakan jemuran, banyak warga yang menjemur aneka barang di atas pagar. Menjemur pakaian, keset kaki, sprei, selimut, karpet, bahkan pakaian dalam.
Hal seperti ini tentunya juga sangat mrusak keindahan. Kalau hanya sesekali, tentu tidak masalah, tetapi kalau sudah menjadi kebiasaan setiap hari, lingkungan tidak akan pernah tampak asri.Â
Seandainya pun haruslah menjemur di halaman depan rumah, sebaiknya kita buat tiang jemuran yang rapi. Dan khusus untuk pakaian dalam sebaiknya tidak kita jemur di depan rumah, melainkan dijemur di tempat yang tak terlihat orang luar, misal di halaman belakang rumah.Â
Rumah tidak mesti mewah untuk terlihat indah. Rumah kecil sekalipun, bila dijaga tetap bersih, penataan baik, banyak tanaman hijau, tidak ada benda yang ditaruh serampangan di halaman rumah, pasti juga akan terlihat indah.Â
Semua itu bergantung dari pemilik rumah, maukah menumbuhkan rasa cinta akan keindahan.Â
Memiliki gaya hidup bersih dan mencintai keindahan bukanlah sesuatu yang sulit dipelajari. Hanya perlu membiasakan dan memaksa diri untuk hidup dalam pola tersebut.Â
Saya berkali-kali kagum ketika melihat gambar-gambar dari Desa Penglipuran, yang menjadi salah satu desa terbersih di dunia. Desa yang terletak di Pulau Bali ini terlihat hijau, segar, rapi, dan tidak terlihat satu helai pun sampah.
Seandainya kita semua bisa memiliki cita seni seperti masyarakat Desa Penglipuran, yang menjunjung tinggi kebersihan dan keindahan, betapa indahnya lingkungan kita. Resolusi perihal menumbuhkan rasa akan keindahan pun bisa tercapai pada tahun ini. (MW)Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H