Mohon tunggu...
Bergman Siahaan
Bergman Siahaan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Penyuka seni dan olah raga tetapi belajar kebijakan publik di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Penikmat tulisan, foto, dan video

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Salah Kaprah OSS?

30 Agustus 2018   09:57 Diperbarui: 30 Agustus 2018   10:32 2108
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Belum siap" bisa menjadi ekspresi yang "berbahaya". "Belum siap" tidak mempunyai durasi yang baku. Kalimat "saya belum siap" bisa digunakan untuk menunda sesuatu hal hingga waktu yang tak ditentukan. Sebab kesiapan itu sendiri sangat relatif. Yang lebih penting didiskusikan adalah grand design dan aksi nyata dalam mewujudkan pelayanan perizinan yang benar-benar terpadu pada satu pintu dan berlari kencang mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara maju.

Sebagai perbandingan, informasi yang saya temui di salah satu media menyebutkan bahwa pada tahun 2014 prosedur perizinan di Indonesia ternyata dua kali lebih banyak dari Hongkong dan durasi prosesnya lebih lama dari Singapura. Biayanya sendiri dua puluh lima kali lebih mahal dibanding biaya berusaha di Brunei Darussalam. Di Australia, bisnis bisa mulai beroperasi dalam 2,5 hari dan Australian Business Register (semacam NIB) sudah dijalankan sejak 1 Juli 2000. Berarti kita sudah tertinggal delapan belas tahun.

Akhirnya saya jadi teringat dengan kutipan terkenal dari pakar bisnis yang menjelaskan kapan waktu yang paling tepat untuk memulai bisnis: "Waktu yang paling tepat untuk memulai bisnis adalah sekarang!". Menunggu waktu yang tepat hanyalah sebuah penundaan yang dimaklumi.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun