Kenang dan kenanglah selalu
dia yang kini terbaring sunyi
di Pemakaman Karet yang sepi
telah lahir puisi-puisi abadi dalam darahnya
yang kini meluncur dari bibir ke bibir
dari mulut ke mulut, bagi generasi selanjutnya
Karena kesedihannya
ia berkata: “ aku ini binatang jalang”
dalam kemarahannya
ia pun berkata:”aku adalah aku, tidak juga kau”
lebih jauh atau lebih dekat, tetap saja ia mendatangimu
dengan kata-katanya, dengan keindahan puisi-puisinya
membangkitkan kembali laut kata-katamu yang mati ombak
di jalan-jalan, di gedung-gedung kesenian yang kian senyap
sepi dari suara-suara riang, sepi dari riuhnya sebuah apresiasi
Maka inilah yang ditinggalkannya
gelombang panjang yang menghubungkan generasi penyair
dengan dirinya yang mati muda, dengan darah kepenyairannya
puisi-puisi abadi, tentang cinta, tentang kesunyian
tentang pergolakan jiwa, tentang pencarian jati diri, perenungan
dan hingga terlihat olehnya sebuah tempat
di mana ia ‘kan terbaring kelak
Kenang dan kenanglah selalu
dia yang kini terbaring sunyi
di Pemakaman Karet yang sepi
barangkali ia hanya sebuah riak, sebuah ombak
namun ia sebuah tonggak yang masih kokoh berdiri
di antara sederetan penyair ternama di negeri ini
kata-katanya melesat ke dalam pikiran, membangkitkan imajinasi!
*****
Batam, 2016.
*Puisi ini pertama kali publish di buku antologi puisi bersama yang berjudul “Setelah 67 Tahun di Karet”, dalam rangka mengenang wafatnya Chairil Anwar.
Ilustrasi: Sampul buku puisi - Aku Ini Binatang Jalang
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI