"Aku tahu, tapi jangan biarin kegagalan ini jadi tembok. Harus tembus!" Raka mengakhiri panggilannya dengan semangat yang justru membuat Arka merasa semakin kosong.
---
Malam itu, Arka terjaga lebih lama dari biasanya. Dalam hening, ia kembali membuka laptop dan menatap resume-nya. Sebuah dokumen setebal dua halaman, penuh prestasi, pengalaman organisasi, dan sertifikasi. Namun, mendadak semua itu terasa hambar dan kosong.
Ia teringat kata-kata ibunya beberapa bulan lalu, saat ia pertama kali menyampaikan kegagalannya, "Nak, jangan hanya cari kerja, cari sesuatu yang berarti. Pekerjaan itu bukan sekadar apa yang ada di kertas. Mungkin kamu harus mulai dari apa yang kamu suka." Waktu itu, ia hanya mendengus pelan, merasa bahwa kata-kata itu terlalu sederhana untuk dunia yang rumit seperti sekarang.
Namun malam ini, di tengah heningnya kamar kos, kalimat itu menggema di kepalanya. Apa artinya bekerja yang 'berarti'? Apakah mungkin selama ini ia hanya sibuk mengejar bayangan orang lain, tanpa benar-benar menemukan dirinya sendiri?
Tangan Arka mulai mengetik. Resume-nya ia ganti judul: *Resume Kosong*. Lembar itu ia bersihkan dari segala prestasi, posisi organisasi, sertifikasi. Semua hilang, meninggalkan ruang kosong.
Di bagian bawah, ia mulai menulis dengan suara yang entah dari mana munculnya. Jujur dan tanpa filter.
---
Keesokan paginya, Arka bangun dengan rasa sedikit lebih ringan. Ia kembali ke layar laptop dan membaca ulang apa yang telah ia tulis:
> "Nama: Arka Satria. Â
> Pendidikan: Lulus dengan ilmu yang masih terus ingin belajar. Â