Jika membaca buku tersebut dilakukan dengan dialog sebagaimana yang dijelaskan di atas, membaca buku filsafat untuk pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, akan menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda. Membaca hari ini tentu akan berbeda dengan membaca hari esok.
3. Tulislah apa yang terlintas dalam benak ketika membaca buku-buku filsafat
Apapun yang muncul dalam benak dan pikiran kita ketika membaca buku-buku filsafat hendaknya ditulis. Tidak mesti hanya mengenai apa yang telah dipahami, tapi juga keraguan dan kritik terkait buku-buku tersebut.
Hal ini dilakukan agar kita tahu sejauh mana pemikiran kita berkembang setelah membaca buku-buku filsafat. Dengan catatan atau rangkuman tersebut, manfaat buku tersebut menjadi terasa dan dapat melihat perkembangan pemikiran kita.
4. Tetap jaga jarak pribadi dengan buku filsafat yang dibaca
Para filosof juga manusia biasa, bukan seorang manusia dewa yang patut dikultuskan. Begitu pula dengan buku-buku mereka. Berhati-hati jangan sampai dianggap layaknya kitab suci.
Para filosof mengembangkan pemikiran mereka sebagaimana pada umumnya yang dilakukan orang-orang, yaitu mempelajari pemikiran filosof-filosof sebelumnya, merenungkan kehidupannya, dan menyarikan pemikiran yang sesungguhnya sebagai perekat dari totalitas kesadarannya.
Apa yang bisa diberikan oleh seorang filosof kepada kita adalah inspirasi untuk mengembangkan pemikiran kita sendiri. Jangan sampai pemikirannya diklaim sebagai kebenaran absolut dan dipaksakan untuk diwujudkan pada realitas. Tidak ada pemikiran yang benar jika pada akhirnya tidak mendatangkan kebijaksanaan.
Referensi:
Sipayung, Hendra Halomoan. Berpikir Seperti Filosof. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI