Pertama, akun DJP Online. Kenapa gak saya sebutkan yang pertama adalah NPWP, sebab semua wajib pajak, baik wajib pajak orang pribadi dan wajib pajak badan tentu punya akun DJP Online.
Pastikan sudah menyiapkan username dan password yang digunakan untuk login DPJ Online. Kalau lupa, biasanya lupa password, klik lupa password aja. Terus ikutin alur berikutnya. Masukkan EFIN, alamat email, dan NPWP.
Kedua, neraca keuangan lembaga. Ini berisi aset lembaga, terkait nilai kas di akhir tahun, persedian (aset yang nantinya juga akan habis), peralatan (aset tetap tapi juga ada penyusutan), dan nilai tanah bangunan (aset tetap). Selain itu, ada rincian terkait modal dan hutang.
Kenapa ada menu opsi nilai hutang? Bukankah lembaga pendidikan tidak punya hutang? Ya, sebagian lembaga pendidikan memang tidak punya hutang, tapi ada sebagian keperluaan yang mendesak dan lembaga kebetulan tidak ada uang, jadi hutang dulu.
Kalau hutangnya belum lunas, ya nilai sisa hutangnya masukkan dalam pelaporan neraca keuangnnya.
Ketiga, sediakan data laporan laba rugi lembaga pendidikan. Katanya non profit, kok ada laba rugi? Ya tentu harus ada dan wajib diisi ya. Terkait format telah disediakan pada akun pajak lembaga atau bisa minta ke KPP/KP2KP via WA.
Laba rugi disini untuk lembaga pendidikan non profit cukup mencantumkan data keuangan dari nilai BOP/BOS yang diterima oleh sekolah dari pemerintah pusat.
Disana ada kolom penerimaan, nilai pengeluaran yang diperinci menjadi biaya gaji (honor) biasanya terisi apabila ada pegawai honorer di lembaga tersebut, biaya transpostasi (terkait bantuan transport apabila ada kegiatan workshop luar kota bagi guru atau tendik, biaya atk, biaya telpon, biaya listrik, biaya pdam, biaya pbb, dan biaya lainnya.
Keempat, sediakan daftar semua nama dan NPWP pegawai yang ada di lembaga pendidikan. Ini diperlukan saat mengisi Lampiran V pada Form 1771.