Mohon tunggu...
Bangun Sayekti
Bangun Sayekti Mohon Tunggu... Apoteker - Pensiunan Pegawai Negeri Sipil

Lahir di Metro Lampung. Pendidikan terakhir, lulus Sarjana dan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Laksanakan

15 Januari 2021   07:59 Diperbarui: 15 Januari 2021   08:04 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Sejak muda penulis mempunyai hobi olah raga, dan mendapat dukungan penuh dari orang tua. Kebutuhan akan alat olah raga selalu dipenuhi orangtua  dengan 2 syarat, penulis tidak boleh bermain di sungai dan tidak boleh memanjat pohon. Demi mendapatkan alat -- alat olahraga yang penulis inginkan, sudah barang tentu kedua syarat itu dengan senang hati penulis patuhi. Sehingga sebelum masuk Sekolah Rakyat ( sekarang Sekolah Dasar ), penulis sudah memiliki bola kaki yang terbuat dari karet, raket badminton, dll. Sungguh sebuah kemewahan kecil di zaman penulis. Dukungan dan fasilitas itulah yang menjadi cikal bakal minat penulis dalam bidang olahraga, hingga dewasa.

Setelah duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA), penulis sering mengikuti pertandingan seharian, pasalnya penulis mengikuti beberapa cabang olah raga. Misal, pagi hari mengikuti pertandingan bola voli, sore hari mengikuti pertandingan sepak bola, dan malam harinya mengikuti pertandingan badminton. Kesemuanya penulis ikuti dengan baik dan penuh semangat, meski hasilnya belum tentu menjadi juara.

Dalam kompetisi memperingati hari kemerdekaan RI misalnya, disamping penulis mengikuti pertandingan klub umum juga mengikuti kejuaraan antar sekolah. Baik pertandingan perorangan, maupun pertandingan beregu. Mengenai hasil dari pertandingan perorangan, kadang-kadang menjadi juara 2 dan umumnya juara 1 untuk cabang olah raga badminton, yang dipertandingan antar sekolah. Ini tidak berarti penulis yang hebat, hanya kemungkinan lawan -- lawan penulis saja yang lagi kurang beruntung. Setelah lulus SMA penulis melanjutkan studi ke Yogyakarta, di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.

Karena aktivitas penulis dibidang olah raga itulah, banyak masyarakat yang mengenal penulis sejak dari tukang becak, tukang patri dan pedagang umumnya sampai ke pedagang barang kerajinan dari emas, boleh dikatakan semua lapisan masyarakat. Meski sejujurnya, penulis tidak mengenal satu persatunya. Hal ini penulis ketahui saat libur semester pulang ke Lampung, jalan -- jalan atau ke pasar. Tidak jarang masyarakat menyapa dengan langsung menyebut nama, penulispun menghampiri dan ngobrol kesana kemari sejak dari olah raga sampai berkaitan dengan kuliah, meskipun sebenarnya penulis tidak tahu nama beliau yang mengajak ngobrol. Hal itu penulis lakukan kepada setiap orang, tidak pilih -- pilih atau tidak membeda-bedakan orang.

Suatu saat ( awal tahun sembilan belas tujuh puluhan ) pak Lakoni ( tidak tahu nama aslinya ) yang berprofesi sebagai pedagang emas, menemui penulis saat liburan di Metro Lampung menanyakan perihal kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pasalnya putri beliau ingin menimba ilmu di UGM, dan yang atas usahanya sang putri telah lulus ujian tulis di Fakultas Farmasi dan Biologi. Karena pak Lakoni tahu kalau penulis kuliah di Fakultas Farmasi, beliau menanyakan kepada penulis perihal apa yang harus dipersiapkan dalam wawancara, agar putrinya dapat diterima di Fakultas Farmasi.

Atas pertanyaan pak Lakoni, penulis lalu menjelaskan segala sesuatunya berkaitan dengan saat penulis dan bapak diwawancara, ketika mau masuk menjadi mahasiswa Fakultas Farmasi. Penulis akhirnya mengatakan kepada pak Lakoni mengenai yang berkaitan dengan besaran sumbangan pembangunan, penulis tidak dapat memberikan gambaran. Karena meski sama -- sama sebagai pedagang namun pak Lakoni sebagai pedagang emas, sedangkan bapak penulis sebagai pedagang barang grabatan, tentunya akan berbeda penilaiannya, silahkan ditentukan sendiri, kata penulis. Hanya sampai disitu bantuan yang dapat penulis berikan kepada pak Lakoni, atas usaha beliau agar putrinya dapat diterima di Fakultas Farmasi UGM. Sedangkan pembekalan terhadap putrinya, penulis membantu dengan memberikan bimbingan belajar.

Dan akhir dari semua usaha tadi, penulis mendapat kabar kalau putri pak Lakoni belum berkesempatan menimba ilmu di Fakultas Farmasi, dan selanjutnya kuliah di Fakultas Biologi UGM. Selama kuliah di Fakultas Biologi, penulis sudah tidak pernah bertemu. Setelah sekian lama tidak bertemu dan ketika pulang ke Lampung, penulis sempatkan mampir ke toko pak Lakoni. Dari cerita pak Lakoni, penulis tahu kalau putranya sudah lulus dan bekerja di Bogor, alhamdulillah. Sejak saat itu ( lebih kurang 38 tahun ), penulis sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan pak Lakoni. Sampai suatu malam penulis mimpi bertemu pak Lakoni, menjelang penulis akan menghadiri acara Suran 1430 H ( 2009 ) di Paguyuban Ngupoyo Upo Bogor.

Dalam mimpi penulis tidak tahu dalam acara apa, dan materi apa yang penulis bicarakan saat bertemu dengan pak Lakoni. Tetapi karena penulis sudah sering menerima petunjuk lewat mimpi seperti itu, insya-Allah penulis mengerti makna petunjuk tersebut, dan sudah menjadi kewajiban penulis untuk melaksanakannya. Oleh karena itu kata "lakoni" penulis uraikan secara singkat, pada saat penulis menyampaikan Obrolan Suran 1430 H ( 2009 ) di Paguyuban Ngupoyo Upo, Bogor.

Untuk sekedar mengingat berikut cuplikannya. Bila kita akan berbuat apapun perbuatannya, didasari oleh rasa yang merasakan (Jawa=roso pangroso), insya-Allah perbuatan atau langkah tadi tidak akan meleset. Tetapi sebaliknya kalau mau berbuat yang sesungguhnya tinggal melaksanakan saja, masih ditambahi dengan pikiran-pikiran lain kemungkinan apa yang akan diperbuat tadi bisa meleset. Mengapa?  Karena sesungguhnya perbuatan yang hanya tinggal kita laksanakan atau "lakoni", masih dicampuri dengan keinginan -- keinginan lain, dan yang tidak menutup kemungkinan sudah dicemari atau dibelokkan oleh hawa nafsu kita.   

Sebagaimana telah sering penulis sampaikan, bahwa hidup diatas dunia ini kita tidak lepas dari ujian Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu ingat dan waspada akan hal tersebut, agar kita tidak terperangkap ke dalam bujuk rayu iblis, setan dan sebangsanya, yang bersemayam dalam diri kita sendiri dalam bentuk hawa nafsu.

Seperti kata lakoni ini. Lakoni ( bahasa Jawa ), yang dalam bahasa Indonesianya berarti laksanakan. Kalau kita tidak hati -- hati dan waspada dalam menyikapi kata laksanakan ini, bisa -- bisa kita akan menjadi orang yang merugi. Bagaimana bisa? Ini sebagai contoh perbuatan. Misal seseorang akan pergi ke pasar di satu kota, untuk membeli suatu barang yang telah direncanakan sebelumnya dari rumah. Barang A misalnya. Begitu sampai pasar yang dituju, seseorang tadi melihat kerumunan orang. Terpikir oleh seseorang tadi untuk melihat, ada kegiatan apa kok orang banyak berkerumun ditempat itu. Setelah mendekat seseorang tadi dapat melihat, bahwa orang yang berkerumun itu ternyata sedang melihat orang yang sedang mendemontrasikan barang dagangannya. Dan sekaligus dipromosikan kalau barang yang didemontrasikan mutunya baik, serta harganya lebih murah bila dibandingkan dengan harga yang dijual di toko.

Setelah menyaksikan demontrasi peralatan tersebut, seseorang tadi tak mau ketinggalan dengan orang lain, diapun terbawa arus dan ikut berebut untuk mendapatkan barang dimaksud. Setelah mendapat barang dia segera pulang, dan tidak jadi membeli barang A yang telah direncanakan dari rumah, karena uangnya sudah tidak mencukupi lagi.

Pernahkah kita menyaksikan kejadian seperti itu? Atau mungkin, justru kita pernah melakukan hal seperti itu? Mungkin saja. Inilah gambaran sederhana, yang seseorang tadi sebenarnya tinggal melaksanakan pembelian barang A sesuai direncanakan, tetapi karena masih dipengaruhi oleh pikiran -- pikiran sesaat, akhirnya meleset dari sasaran semula. Lalu apa kerugian atas kejadian ini? Kerugian atas kejadian ini adalah tertundanya seseorang tadi untuk memiliki barang A pada saat itu, yang sesungguhnya barang itu lebih dibutuhkan dari pada barang yang dibelinya tanpa direncanakan sebelumnya.

Contoh lain, misal seseorang dipercaya membuat suatu bangunan (apapun bangunannya). Atas kepercayaan yang diberikan, seseorang tadi lalu mendesain bangunan yang dipesan. Merencanakan jenis dan kualitas bahan yang akan digunakan, serta komposisi bahan yang harus dilaksanakan agar bangunan selesai dalam waktu 12 bulan, dan dapat bertahan selama 50 tahun, misalnya. Untuk mewujudkan bangunan sebagaimana direncana-kan dibutuhkan sejumlah dana tertentu, dan si pemesan sudah menyetujui besaran dana dimaksud.

Sesuai waktu yang telah direncanakan, diserahkanlah bangunan tadi kepada pemesannya. Beberapa saat setelah bangunan dipergunakan, mulailah tampak kejanggalan -- kejanggalan atas bangunan tersebut. Boro -- boro dapat bertahan sampai 50 tahun, selagi baru 1 bulan digunakan saja dinding sudah kelihatan retak -- retak, pintu berderak -- derak bila dibuka ataupun ditutup, dan kejanggalan -- kejanggalan lainnya. Mengapa demikian? Ya karena seseorang yang dipercaya tadi, tidak dapat memegang kepercayaan yang telah dipercayakan pemesan kepadanya. Karena setelah memegang dana yang seharusnya tinggal melaksanakan pembangunan sesuai direncanakan, penggunaannya dibelokkan oleh pikiran -- pikiran pribadinya yang tidak termasuk dalam rencana pembangunan gedung. Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan gedung justru digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, akibatnya kualitas gedung tidak dapat dipertanggung jawabkan, apalagi ditarget dapat bertahan sampai 50 tahun.

Lalu apa kerugian atas kejadian ini? Kerugian bagi pemesan, dana yang telah dikeluarkan tidak sesuai dengan bangunan yang didapat. Sedangkan kerugian bagi seseorang yang dipercaya tadi, sudah barang tentu hilangnya kepercayaan masyarakat untuk menggunakan jasanya lagi. Bukan hanya itu kerugian buat seseorang yang dipercaya tadi, masih ada kerugian lain dan kerugian ini justru lebih besar. Karena seseorang ini sudah tidak ingat lagi kepada Allah, yang selalu bersama dimanapun seseorang berada dan yang selalu melihat apa yang orang kerjakan. Ini adalah contoh orang yang dikendalikan oleh kebutuhan duniawi, melalui hawa nafsu dirinya sendiri yang berkiprah atas kendali iblis, setan, dan sebangsanya.

Memang benar akan mendapat kesenangan namun hanya sesaat, dan yang akan dipertanggung jawabkan kelak dipengadilan akhir dihadapan Allah Swt. Tuhan Yang Maha Adil.  Dapat disimpulkan seseorang tadi akan berlipat dosanya dihadapan Yang Maha Adil. Surat Al Maa-idah ayat 29. "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim." 

Padahal kalau seseorang yang dipercaya tadi  melaksanakan pekerjaan bangunan sesuai direncanakan, sudah barang tentu tidak akan mendapat kesulitan berkepanjangan. Ini contoh dari perbuatan yang seharusnya tinggal melaksanakan (lakoni), tetapi meleset karena dicemari pikiran dirinya sendiri. Surat Al Hadiit ayat 4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Surat Ali 'Imran ayat 163. (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat disisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Contoh lain lagi. Penulis sering mengingatkan bahwa selama melakoni hidup dan kehidupan diatas dunia ini, kita tidak terlepas dari ujian Allah, baik dalam keadaan susah maupun senang. Pada kesempatan ini penulis akan menjelaskan ujian Allah atas seseorang dalam keadaan senang, sedangkan ujian atas seseorang dalam keadaan susah, mudah -- mudah kita semua telah dapat menemukan sendiri.

Siapapun dia, apapun status dan kedudukannya, apakah masyarakat biasa, profesional ataupun pejabat, tentunya akan merasa senang dan bangga bila mendapat keberhasilan. Misal seseorang yang karena menguasai keterampilan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang mumpuni, lalu dapat mendesain produk baru, dapat membuat program A, dapat membuat kapal laut, dapat membuat kapal terbang, dapat membuat kereta api dan lain -- lain. Sudah barang tentu seseorang tadi akan merasa senang, bangga, dan bahagia atas hasil karyanya bukan?

Sudah pasti, dan wajar kalau mensyukuri atas kesuksesannya. Tetapi bila seseorang tadi tidak hati -- hati dan waspada, dapat tergelincir menjadi orang yang takabur dan menyombongkan diri. Betapa tidak? Coba kalau seseorang tadi, atas keberhasilannya lalu salah ucap dan mengatakan: desain produk baru itu adalah hasil ciptaanku. Program A itu adalah hasil ciptaanku. Kapal laut itu adalah hasil ciptaanku. Kapal terbang itu adalah hasil ciptaanku, Kereta api itu adalah hasil ciptaanku. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Surat Al A'raaf ayat 54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. 

Kebahagiaan dan kebanggaan atas keberhasilan seseorang bila tidak hati -- hati, dan waspada dapat menjadikan seseorang menjadi takabur dan sombong dengan menyebut dirinya sebagai pencipta. Padahal menciptakan hanyalah hak Allah. 

Surat Al An'aam ayat 59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Surat An Nisaa' ayat 108. mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.

Benar bukan. Apapun yang kita lakukan diatas dunia ini, hakekatnya hanyalah tinggal melaksanakan (lakoni), dengan membuka tabir yang melingkupi semua ciptaan-Nya. Dan yang perlu kita ingat dan sadari bahwa dalam menjalani hidup dan kehidupan diatas dunia ini, perbuatan apapun yang dilakukan manusia, selalu menyertai dengannya adalah ujian dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu hendaklah hidup kita, tidak dikendalikan oleh hawa nafsu, yang berkiprah atas kendali iblis, setan dan sebangsanya. Justru sebaliknya manusialah yang seharusnya, dapat mengendalikan hawa nafsu. Demikian beberapa contoh, dan selanjutnya silahkan dikembangkan sendiri.

Dan manusia yang telah sampai pada tataran ini, hanyalah manusia yang telah mampu meleburkan atau menyatukan dirinya kedalam Dzat Yang Maha Suci. Sehingga semua tingkah laku, perbuatan dan tutur katanya sehari -- hari, merupakan perwujudan dari sifat dan kehendak Allah Tuhan Yang Maha Pencipta, semata.  Karena semua yang terjadi atas Jagad Raya atau semesta alam seisinya termasuk diri manusia, semuanya telah didesain oleh Allah Swt. Tuhan Yang Maha Pencipta. Manusia tinggal melaksanakan saja ( Jawa= Manungso mung kari nglakoni atau Manungso mung sak dermo nglakoni ).

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun