Mohon tunggu...
Bangun Sayekti
Bangun Sayekti Mohon Tunggu... Apoteker - Pensiunan Pegawai Negeri Sipil

Lahir di Metro Lampung. Pendidikan terakhir, lulus Sarjana dan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Hidup Karena Kebiasaan

9 Januari 2021   07:12 Diperbarui: 9 Januari 2021   07:28 759
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Penulis juga membiasakan agar secara spontan dapat mengedepankan rasa syukur, dengan cara meniadakan istilah murah atau mahal dan atau tidak punya uang dalam keseharian penulis. Karena istilah murah atau mahal hanyalah merupakan nilai sesuatu, yang dapat berubah dari tahun ke tahun dan atau dari jaman ke jaman.

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Yang Maha Penyayang,  saat ini penulis dapat melihat banyak masyarakat yang makanan pokoknya beras, masih dapat makan nasi setiap harinya meski harga beras per kg Rp 8.000,- bahkan lebih. Sedangkan menurut cerita orang tua, pada jaman Jepang dahulu dengan mengeluarkan uang 1 sen ( 1 rupiah = 100 sen ) saja sudah dapat beras puluhan kg. Tetapi mengapa rakyat waktu itu, kok masih banyak yang makan bonggol pisang?  

Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan, bahwa beras 1 kg dengan harga Rp 8.000,-  atau lebih sekarang ini, jauh lebih murah bila dibanding dengan nilai uang 1 sen pada jaman Jepang. Penulis tidak mengatakan harga beras yang 1 kg Rp 8.000,- mahal, karena toh kenyataannya penulis masih mampu untuk membelinya. Dan bersyukur sehingga penulis sekeluarga tidak sampai makan bonggol pisang, walau harga per kg beras Rp 8.000,- atau lebih.

Demikian pula saat musim buah -- buahan. Umumnya buah yang muncul diawal dan diakhir musim akan mempunyai nilai jual tinggi. Bila dibandingkan dengan, nilai jual buah saat masa panen rayanya. Disinipun dapat digunakan sebagai ujian, atas rasa syukur atas karunia Allah.

Untuk menyikapi agar terhindar dari mengingkari rasa syukur, bila harga masih tinggi menurut ukuran penulis, ya membeli separuhnya. Bila separuhnya juga masih dirasa tinggi ya beli seperempatnya, sesuai dengan uang yang penulis miliki. Tetapi bila dibeli separuhnya atau seperempatnya tidak boleh, penulis cenderung minta maaf, belum jadi membeli karena uangnya belum mencukupi; Bukannya berkata tidak jadi membeli, karena tidak punya uang.

Dengan demikian penulis tidak memvonis atau menghukum diri, dengan mengatakan tidak punya uang. Khawatir kalau uang yang penulis miliki dan yang memang hanya pas -- pasan, lalu hilang beneran akibat omongan penulis sendiri, karena Gusti Allah ora sare (Allah tidak tidur).

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun