Mohon tunggu...
Bang Syaiha
Bang Syaiha Mohon Tunggu... Guru | Penulis | Blogger | Writer | Trainer -

www.bangsyaiha.com | https://www.facebook.com/bangsyaiha

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Suamiku Tidak Romantis Lagi

16 Oktober 2015   10:17 Diperbarui: 4 April 2017   17:55 726
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

“Bang Syaiha, salam kenal,” sapa seorang perempuan ke saya beberapa waktu lalu, “perkenalkan, nama saya Bunga –bukan nama sebenarnya, dan saya beberapa kali membaca tulisan Abang. Bagus. Banyak ilmu dan pencerahan yang saya dapatkan disana. Dan lagi, tulisan Abang ringan, mengalir, dan enak sekali membacanya, Alhamdulillah.”

Saya menjawab pesan singkat itu beberapa kalimat, “Salam kenal kembali, mbak. Terimakasih juga sudah membaca tulisan-tulisan saya. semoga banyak manfaat yang bisa diambil dan menjadi amal jariyah saya di yaumil akhir nanti, aaamiin.”

“Aaamiin,” dia ikut mengaminkan, lalu berkata lagi, “Oh iya, Bang, apakah Abang sedang sibuk? Soalnya, ada beberapa yang ingin juga saya tanyakan.”

“Iya, mbak. Saya sedang sibuk, seharian ini saya mengajar dari pagi hingga petang,” ujar saya jujur, “Tapi jika memang ingin bertanya sesuatu, silakan saja. Tidak apa-apa. Nanti akan saya jawab jika sempat.”

Maka mulailah Bunga bercerita, “Begini, Bang, saya ibu rumah tangga. Usia pernikahan kami juga belum lama, baru dua tahun. Tapi, sejak menikah hingga sekarang, saya mendapati suami saya berbeda sekali dengan dia yang saya kenal semasa pacaran, Bang.”

“Dulu, ketika masih pacaran, dia sering kali membangunkan saya ketika Shubuh, bilang suruh saya shalat. Sekarang, jangankan dibangunkan, saya malah yang mati-matian, susah sekali membangunkannya.”

Sampai titik ini, saya tersenyum geli.

“Juga dulu, ketika masih pacaran, suami saya ini romantis sekali. Hampir setiap hari bilang cinta, memberi saya banyak kejutan dan hadiah. Sekarang, boro-boro! Hari ulang tahun saya tahun ini saja ia hampir lupa.”

“Nah, Bang Syaiha, kira-kira, apa yang salah ya? Dan apa yang seharusnya saya lakukan? Bagaimana caranya agar suami saya kembali seperti dulu, menjadi romantis dan perhatian?”

Baiklah, mari kita bahas pelan-pelan. Buat Bunga, mohon maaf karena pertanyaan ini baru saya jawab sekarang. Padahal, pertanyaan ini sudah lama sekali hadir di pesan singkat saya. Tapi karena kesibukan dan lain hal, saya lupa menjabarkannya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian yang Bunga alami.

Pertama, saya menganalogikan bahwa pernikahan itu seperti mawar, indah memang, tapi ia berduri. Maka berhati-hatilah menjalaninya. Mengharapkan pernikahan yang lancar dan mulus-mulus saja, itu ibarat menunggu pohon kelapa berbuah pisang. Tidak mungkin!

Pada sebuah pernikahan, akan ada cobaan dan rintangan. Ada aral melintang. Dan ketika ia datang, maka cobalah untuk melihat dari dua sisi. Dari sudut pandang pribadi dan sudut pandang suami.

Dia mungkin terlihat berubah, tapi tidak kah kalian berpikir bahwa boleh jadi dia berubah karena kalian pun telah berubah? Di matanya dulu, kalian mungkin cantik sekali, tapi sekarang, ketika setahun dua tahun pernikahan terlewati, saat kalian terlihat abai mengurusi diri, suami akhirnya menilai kalian tak cantik lagi, atau sebagainya.

Cobalah untuk melihat semua kejadian dalam rumah tangga dengan dua sudut pandang, biar adil dan tidak timpang.

Kedua, jika ternyata kalian merasa yakin sudah maksimal berbuat yang terbaik dan suami tetap begitu, maka perhatikan hal ini baik-baik, bahwa pacaran dan pernikahan itu tak sama. Dua hal ini jauh sekali bedanya. Yang satu dosa dan dilarang, satunya lagi dianjurkan dan berpahala jika sudah siap dan matang.

Bahkan, salah seorang kawan pernah berkata begini, “Orang pacaran itu sama seperti sales sebuah barang. Demi meningkatkan penjualan, mereka akan mati-matian bilang ini dan itu tentang kebaikan dan keunggulan barang dagangan, bukan? Tidak sekalipun ia akan menceritakan kebukuran dan kekurangannya.”

“Nah, pacaran juga demikian. Pelakunya, pasti akan menunjukkan yang baik-baik saja kepada pacarnya. Ketika Shubuh, dia ambil ponsel dan menelpon, ‘Sayang, sudah pagi. Jangan lupa shalat yaa..’ itu manis sekali, kan. Tapi setelah itu, yang dilakukan kemudian malah tidur lagi. Pacarnya tidak tahu, kalau ternyata lelakinya menelpon dalam keadaan setengah sadar dan masih dalam selimut. Yang ada di bayangannya adalah, ‘Subhanallah, calon suamiku sholih sekali..’

“Ketika pacaran, mereka tidak hidup bersama. Maka mustahil sekali bisa saling mengenal satu sama lain. Tak peduli seberapa lama pacarannya, jangan harap bisa saling mengenal sempurna. Justru sebaliknya, karena semakin lama pacaran itulah kalian akan merasakan kekecewaan yang dalam ketika menikah, mendapati pasangan kalian jauh sekali berbeda.”

Ketiga, tidak ada yang salah dengan suamimu, Bunga. Ya, tidak ada yang salah. Sudah dari sononya, sebagian besar laki-laki tak bisa mengingat hal detail. Lupa tanggal lahir kalian dan anak-anak, lupa tanggal pernikahan, lupa ini dan itu, banyak sekali.

“Tapi waktu masih pacaran dia selalu ingat, loh, Bang?”

Ya iyalah, ketika pacaran kan dia benar-benar ingin membuatmu terkesan, benar-benar ingin agar kalian tak lari dan menjauh. Sama seperti sales tadi. Bedanya, ketika sudah menikah, kalian sudah benar-benar terikat, sehingga dia tak merasa perlu lagi melakukan ini dan itu.

Keempat, jika kalian ingin mengembalikan kehangatan dalam berumah tangga, cobalah ajak suamimu jalan-jalan berdua ke tempat-tempat yang bersejarah dalam hubungan kalian. Bangkitkan lagi beberapa kenangan manis yang sudah pernah ada. buatlah dia ingat bahwa dulu, hubungan kalian adalah hubungan terbaik yang seharusnya dijaga hingga pernikahan.

Dan terakhir, untuk semua lelaki yang secara tak sengaja membaca catatan ringan ini, bersikaplah manis dan romantis hingga pernikahan. Usahakan ingat tanggal-tanggal penting dan jangan pelit memberi kejutan ke pasangan kalian.

Demikian.

Saya posting juga di www.bangsyaiha.com 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun