“Tapi saya tak mencintainya, Bang?”
Cinta itu bisa ditumbuhkan setelah menikah. Tergantung mbaknya, mau menanam benihnya atau tidak. Kalau mbak terlalu lebay dan beranggapan bahwa cinta hanya untuk si A, ya silakan saja. Tunggu saja dua tahun. Silakan berlama-lama dalam ketidakpastian dan bertambah usia.
Cinta itu bisa ditumbuhkan. Seperti istri saya misalnya, berani menikah dengan saya ketika baru kenal 7 hari saja. Jujur sekali dia bilang, bahwa ketika awal menikah dulu, belum ada cinta di dadanya. Lalu saya tanyakan, “Jika demikian, mengapa berani menerima pinangan dari saya?”
Enteng pula dia jawab, “Karena Mas yang sudah siap, meminta saya baik-baik, dan mengikatnya dalam kepastian bernama pernikahan. Saya tak mau menunggu lelaki-lelaki yang tak jelas. Menunggu setahun dua tahun, sama saja menghabiskan waktu dan membuat saya menjadi semakin tua, menjadi perawan tak laku.”
Dan sekarang, jika mbak ingin menanyakan bagaimana perasaan istri saya, silakan. Cinta yang dulunya tak ada, sekarang sudah tumbuh subur di dalam dadanya.
Itu saja jawaban yang saya bisa jelaskan. Semoga dengan penjabaran ini, bisa menjadi renungan buat mbak yang bertanya. Dan buat siapapun yang membaca, silakan sebarkan jika berkenan.
Demikian.
Tulisan ini juga saya posting di WEBSITE PRIBADI saya
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H