Panggilan kedua, ternyata penulis juga tidak termasuk nama--nama yang dipanggil. Teman -- teman yang namanya dipanggil, diminta masuk ke ruang dosen. Setelah agak lama, teman -- teman keluar dari ruang dosen. Ternyata teman -- teman tadi termasuk yang harus mengulang dalam waktu 2 bulan, karena tidak lulus 2 mata praktikum.
Sudah barang tentu, hatipun dag dig dug, karena tidak mengetahui berapa kali panggilan akan dilaksanakan. Selanjutnya panggilan ketiga, ternyata penulispun tidak termasuk nama -- nama yang dipanggil.Â
Teman -- teman yang namanya dipanggil, diminta masuk ke ruang dosen. Setelah agak lama, teman -- teman keluar dari ruang dosen. Ternyata teman -- teman tadi termasuk yang harus mengulang dalam waktu 3 bulan, karena tidak lulus 3 mata praktikum.
Panggilan yang keempat, penulis termasuk nama-nama yang dipanggil. Alhamdulillah, kelompok yang dipanggil keempat ini ternyata penggilan yang terakhir; Dan  kelompok terakhir ini dinyatakan lulus ujian Apoteker.Â
Dengan hati yang berbingar-bingar, kami semua diminta memasuki ruang dosen. Secara bergiliran kami semua menyalami dan mengucapkan banyak terima kasih kepada  para dosen, yang telah membimbing hingga kami lulus Apoteker.Â
Tempat duduk dosen, ditata merupakan tatanan atau bangun segi empat untuk memudahkan berjabat tangan. Satu persatu para dosen penulis salami, dan akhirnya sampai di giliran bapak dosen pembimbing praktikum Galenika.Â
Beliau mengucapkan selamat atas kelulusan penulis, dan berkata: segera dikawat (ditelegram) orangtuanya untuk menghadiri acara penyumpahan Apoteker di Yogyakarta tanggal 19 Maret 1977. Baik pak, terima kasih atas bimbingan bapak selama ini, mohon maaf bila ada kekhilafan, dan akan segera saya laksanakan saran bapak, jawab penulis.
Demikian seterusnya kepada dosen -- dosen yang lain, hingga akhirnya penulis sampai di hadapan bapak dosen Koordinator tingkat. Begitu sampai didepan beliau, penulis sodorkan tangan kanan untuk menyalami beliau dan berucap terima kasih.Â
Tetapi tangan kanan yang  penulis sodorkan, tidak disambut beliau secara spontan, layaknya dosen-dosen yang lain. Penulispun tidak dapat menduga atau mengira, mengapa beliau tidak berkenan menyambut uluran tangan penulis layaknya dosen-dosen yang lain.Â
Setelah agak lama menunggu, dengan posisi tangan penulis tetap dalam posisi mau bersalaman, tiba -- tiba plaaak..... telapak tangan kanan beliau menampar pipi sebelah kiri penulis sambil berucap, sangat besar tekadmu.Â
Akhirnya semua dosen, mengetahui dongengan atau kisah penulis ini. Atas kejadian tersebut, oleh beliau penulis dipergunakan sebagai contoh untuk menyemangati dan atau memotivasi teman-teman, manakala teman-teman mendapat atau menghadapi suatu masalah ( diceritakan diakhir tulisan ini ). Â