Para relawan yang membawakan kasur, bantal, selimut, handuk dan sembako, rupanya tak sabar melihat kondisi rumah mbah Waliyah. Mereka bersatu padu membersihkan  kayu bakar yang teronggok di setiap sudut. Selain memasang lampu penerangan yang aliran listriknya diambil dari rumah tetangganya, relawan juga mengganti empat genting dengan genting kaca agar sinar matahari bisa masuk ke dalam.

Beberapa relawan, sebenarnya sudah tak sabar ingin merobohkan gubuk lapuk tersebut. Namun, karena ada informasi yang menyebutkan bahwa rumah mbah Waliyah telah diusulkan pemerintah desa untuk menerima program bedah rumah, maka niat itu sementara ditangguhkan. Maksimal hingga satu bulan mendatang, bila bantuan program pemerintah belum terealisasi, maka relawan akan membedahnya.


Memang, hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah mbah Waliyah, tetangganya memiliki sumur yang untuk mendapatkannya perlu menimba terlebih dulu. Celakanya, tenaga nenek ini sangat tidak memungkinkan menimbanya. Jangankan mengambil air, berjalan kaki saja ia harus dibantu tongkat kayu. Sungguh malang nian  kehidupan sang nenek. (*)
Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI