Jika pada kenyataan banyak naskah yang "parah", tentu karena penulisnya tidak melakukan swasunting. Mengapa mereka tidak melakukannya? Ya, sebabnya mereka tidak pernah diajari swasunting (self-editing) sebagai bagian dari kemampuan ambideksteritas di bidang literasi.
Mungkin banyak yang menyangka bahwa menulis, ya menulis saja (seperti judul buku saya). Urusan menyunting itu urusannya para editor di penerbit. Padahal, dengan menggabungkan dua kemampuan (menulis dan menyunting), seseorang benar-benar bakal menjelma layaknya Dewa Janus. Ia dapat melihat ke depan saat menulis dan ia akan melihat ke belakang saat menyunting.
Namun, perlu diingat bahwa menulis-menyunting tidak dapat dilakukan secara bersamaan. Tepatnya, lebih relevan secara bergantian. Kalau Anda menulis sambil menyunting, alamat naskah tidak akan selesai-selesai. Idealnya Anda menyunting setelah naskah ditulis lengkap sebagai draf.
Di sisi lain dalam konteks bekerja, tentu saja Anda dapat menulis naskah sendiri, lalu menyunting tulisan atau naskah orang lain secara bergantian. Itu yang kerap saya lakukan.Â
Otak ini memang rasanya dibuat beruas, ada ruas menulis karya sendiri dan ada ruas menyunting karya orang lain. Otak ini diberi pangsa, satu pangsa untuk tulisan mandiri dan satu pangsa untuk tulisan orang lain. Lama-lama memang jadi terbiasa.
Anda tertarik menjadi ambidekster dalam bidang literasi? Selamat memasuki dunia kanan-kiri ok atau depan bisa-belakang bisa.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H