Misalnya teks Puisi Karawang Bekasi Chairil Anwar: Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi, sebagai  "Hymn of the Patriot", yang ditulis dalam konteks perang tahun tahun 1948,  atau Gugur Bunga" diciptakan Ismail Marzuki  menyerukan senjata melawan mereka yang dia sebut "merah".Â
Atau Bagimu Negeri adalah judul lagu perjuangan yang diciptakan Kusbini pada tahun 1942 dan merupakan lagu wajib perjuangan serta ditetapkan sebagai lagu nasional Indonesia pada tahun 1960 atau puisi itu adalah pembelaan terhadap moralitas, agama, dan kepemilikan pribadi. Sebuah syair yang menarik adalah sebagai berikut: "Mari kita selamatkan agama dan moral/ Dan bersama mereka kehormatan dan kebebasan/ Mari kita muat senapan dan revolver/ Tuhan dan negara. Â
 Seperti yang telah kita lihat, patriotisme adalah perasaan yang wajar dalam pembentukan republik dan negara nasional. Itu lahir dengan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Sumpah pemuda. Meski terkait dengan wilayah, definisinya mendapat nuansa baru, terkait dengan kebebasan dan kedaulatan.Â
Dalam hal ini, kita harus mengingat puisi "Cinta untuk tanah air", "Cinta, ibu pertiwi, untuk tanah air/ bukanlah cinta yang konyol untuk bumi/ atau rumput yang diinjak tanaman kita/ Itu adalah kebencian yang tak terkalahkan siapa pun yang menindasnya / adalah dendam abadi bagi siapa pun yang menyerangnya". Atau ketidakjujuran dan ketidak adilan tindakan dalam kebebasan;
Patriotisme digantikan oleh nasionalisme, gagasan kasih sayang yang lebih luas dan lebih rasional terhadap negara. Nah, bangsa, seperti kita ketahui, tidak hanya merujuk pada satuan wilayah, tetapi pada sumber daya dan kekayaan, pada bahasa dan adat istiadat. Namun, patriotisme dan nasionalisme muncul kembali dengan kekuatan di mana terjadi invasi dan konflik batas perbatasan.
Apakah ini berarti kita harus menghapus cinta tanah air? Saya kira tidak, apalagi jika itu adalah cinta yang tulus, berdasarkan kebebasan dan persaudaraan. Cinta yang tidak buta. Cinta yang menuntun seperti yang diilustrasikan untuk mencapai pengetahuan tentang negara dan kebahagiaan orang-orang yang menghuninya.Â
Apakah ini berarti kita harus menghapus cinta tanah air? Saya kira tidak, apalagi jika itu adalah cinta yang tulus, berdasarkan kebebasan dan persaudaraan. Cinta yang tidak buta. Cinta yang menuntun  seperti yang diilustrasikan  untuk mencapai pengetahuan tentang negara dan kebahagiaan orang-orang yang menghuninya.
*) tulisan ini adalah bahan kuliah teks KGPAA Mangkunegara IV, Kepemimpinan-Sarat Wedotomo;/2012
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI