Ia ingin membuka pikiran masyarakat untuk memberikan ruang kepada “Kartini-kartini” kecil melanjutkan pendidikan.
Jelas saja, bagaikan berita yang disambar petir saat itu, dikmapungnya, ia menjadi trending topic.
Dengan begitu, Sudah pasti, hari itu ia dianggap sebagai salah satu wanita yang berani melawan arus, wanita yang berbeda dengan wanita lainnya. Bukan hanya cemohan dari keluarga yang ia dapatkan, namun bahasa yang tidak nyaman ditelinga sudah tersebar di seluruh pelosok kampung, bahkan tidak menunggu waktu lama, berita itu sudah tersebar cepat di seluruh pelosok desa, walau tanpa harus termuat di surat kabar saat ini.
Berbagai fitnah mulai terdengar disana sini, mulai dari bahaya perempuan berada jauh di daerah lain tanpa keluarga, "Kartini" kecil itu difitnah akan bersama lelaki yanga bukan muhrim di daerah lain, hingga bahaya hamil di luar nikah menjadi ancamannya.
Kini perlawanan sudah terlanjur ia kobarkan, Tapi ia sadar betul, melawan mereka bukan harus dengan mengangkat suara, tapi memberikan gambaran yang positif dan persuasif, serta dengan komitmen yang tinggi untuk mencapai apa yang dicita-citakan, sehingga melawan apa yang mereka pikirkan selama ini.
Sungguh, perlawanan itu menjadi hal yang paling menyedihkan baginya, namun juga menjadi ajang pembuktian bagi “Kartini” kecil yang berpikir dewasa itu,,,…..”BERSAMBUNG…….”,….
Baubau, 21 April 2016
Bung_Baladil
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H